WBEntxSeoul2.0

Latest Shouts In The Shoutbox -- View The Shoutbox · Rules Collapse  


 
Add Reply
New Topic
New Poll

 I'll Back Off So You Can Live Better, G.na
Shin Yoomi
 Posted: Dec 22 2017, 06:59 AM
Quote
send pm // Offline
245 posts
27 years old
Auditor
ID: shinyoo90
not telling
Citizen

2690 points
Awards: 5



Disclaimer:
1313 words. Shin Yoomi adalah karakter milik saya sementara karakter lain yang disebutkan di sini adalah milik PM masing-masing. Gerakan karakter lain yang disebutkan di sini telah seizin dari PM karakter yang bersangkutan.



"I'll back off so you can live better—"

©g.na


Winter 2009


Sudah beberapa bulan sejak Yoomi kembali tinggal di Seoul. Kali ini bukan karena ayahnya yang dipindahtugaskan (seperti saat ia masih duduk di sekolah dasar dulu) melainkan Yoomi sendiri yang sudah menjadi mahasiswi di salah satu perguruan tinggi di Seoul. Tinggal jauh dari kedua orang tuanya membuat Yoomi menjadi lebih tenang karena tidak perlu mengurusi konflik yang terjadi antara keduanya. Selain itu, tidak perlu waktu yang lama jika ingin bertemu dengan Junseo.

Kepalanya sejak tadi tidak berhenti menoleh ke arah Junseo, tak acuh pada jalanan di depannya. "Kenapa?" tanya si pemuda sambil menoleh ke arah Yoomi sebelum kembali fokus pada jalanan di hadapannya. Sementara Yoomi hanya menggeleng sambil tersenyum.

Bertahun-tahun mengenal Seon Junseo membuat Yoomi sangat senang jika berada di sekitar pemuda itu. Yoomi sendiri tidak tahu sejak kapan ia mulai menyukai Seon Junseo karena keduanya sudah saling mengenal sejak duduk di bangku sekolah dasar. Saat itu, Junseo selalu membantunya jika ada anak lain yang mengganggu. Mungkin sejak saat itu lah Shin Yoomi mulai menaruh rasa kagum pada Junseo. Bahkan setelah pindah ke Daejeon pun rasa kagumnya pada Junseo tidak pernah hilang, sehingga Yoomi mencoba berbagai cara agar ia tetap bisa menjaga hubungan baik dengan Junseo.

Hingga saat ini, perhatian yang selalu diberikan Junseo pada Yoomi selalu saja membuat gadis itu salah tingkah. Sepertinya pemuda itu begitu paham bagaimana caranya menangani emosi Yoomi yang meletup-letup. Tak jarang, kesabaran Junseo yang tanpa batas selalu berhasil menenangkan gadis itu di saat-saat tertentu. Alasan itu lah yang membuat Yoomi semakin nyaman berada di sekitar Junseo.

"Oppa, aku ingin mengatakan sesuatu." Kata-katanya terdengar sedikit ragu, "tapi oppa jangan marah ya kalau dengar ini." Sementara Junseo hanya menoleh dan menanti apa yang sesungguhnya ingin dikatakan oleh Yoomi.

Cukup lama Shin Yoomi menyimpan sendiri perasaannya meskipun ia ragu jika Junseo tidak menyadari bagaimana perasaan sang gadis karena gerak-gerik yang ditunjukkan cukup menyiratkan bagaimana perasaan Yoomi pada Junseo, hingga suatu hari, Yoomi memutuskan untuk menyatakan langsung pada Junseo. Sebenarnya butuh banyak pertimbangan bagi Yoomi untuk melakukan hal itu. Mulai dari memikirkan kemungkinan hubungan mereka yang jadi memburuk jika keduanya sudah tidak lagi jadi sepasang kekasih hingga kebiasaan Junseo yang mudah sekali dekat dengan banyak gadis.

Langkahnya kemudian terhenti, "mungkin oppa sudah tahu ini," mengingat gerak-gerik Yoomi yang selalu salah tingkah di sekitar Junseo, jadi kemungkinan laki-laki itu menyadari bagaimana perasaan Yoomi padanya cukup besar, "tapi aku tetap akan bilang."

Entah mengapa keyakinan dan keberanian yang sudah ia kumpulkan sejak tadi tiba-tiba hilang begitu saja, "sebenarnya ..." Shin Yoomi langsung menundukkan kepala, jantungnya sudah berdetak tidak karuan dan malu rasanya jika harus menatap kedua mata Junseo secara langsung. Cukup lama Yoomi terdiam sebelum akhirnya ia menyatakan apa yang sesungguhnya ingin ia katakan sejak lama, "aku suka sama oppa iya aku tahu ini tidak benar karena kita berteman sudah lama sekali. Jadi oppa tidak perlu menyukaiku juga karena aku hanya ingin mengatakan ini. Kalau oppa merasa canggung, anggap saja aku tidak pernah mengatakan apa-apa." Semuanya dikatakan dalam satu tarikan napas karena Yoomi tidak ingin kalau harus memotong kalimatnya dan merasa semakin canggung.

Kepalanya masih tertunduk sebelum akhirnya didongakkan untuk menatap Junseo. Hanya senyuman canggung yang bisa ia berikan karena jujur saja perasaannya menjadi tidak jelas, lega bercampur khawatir. Di satu sisi, ia lega karena sudah mengatakan apa yang selama ini disimpan, namun di sisi lain, Yoomi takut jika hubungannya dengan Junseo jadi canggung dan akan ada jarak yang memisahkan mereka. Maka dari itu, Yoomi mengatakan agar Junseo tidak perlu terlalu memikirkan apa yang baru saja ia ungkapkan. Meski jauh di dalam hati Yoomi juga ingin jika Junseo mengatakan sesuatu, namun nyatanya, laki-laki itu hanya diam dan tidak memberikan pernyataan apapun.

---


Seminggu telah berlalu sejak Yoomi mengungkapkan perasaannya pada Junseo. Meskipun sudah mengatakan pada Junseo agar bersikap biasa dan menganggap bahwa ia tidak pernah mengatakan apapun, nyatanya Yoomi sendiri yang tidak bisa bersikap biasa. Gadis itu terus saja berusaha menghindari pertemuan dengan Junseo karena berbagai alasan. Berat rasanya jika harus menghadapi Junseo yang tetap bersikap baik padanya sementara laki-laki itu sudah mengerti dengan jelas bagaimana perasaannya. Tapi Yoomi juga tidak ingin jika Junseo mendadak menjauhinya. Kemauannya memang tidak pernah jelas.

Untung saja Junseo tetap berusaha menghubungi dan menemui Yoomi saat gadis itu selalu saja mencoba untuk menghindar, sehingga hubungan mereka pun tidak merenggang begitu saja. Hanya saja memang butuh waktu cukup lama sampai akhirnya Yoomi bisa berpura-pura melupakan apa yang sudah ia katakan pada Junseo.

Sebenarnya, jika ditanya apakah perasaannya pada Junseo adalah perasaan suka? Yoomi sendiri tidak akan bisa menjawab karena memang pada kenyataannya gadis itu tidak mengerti apakah yang ia rasakan adalah perasaan suka yang benar-benar tulus atau hanya karena terobsesi dengan perhatian yang selama ini diberikan oleh Junseo sebab gadis itu benar-benar tidak pernah punya pengalaman tentang masalah seperti ini.

---


Spring 2010


Malam itu Junseo meminta Yoomi untuk menemuinya di sebuah klub jazz tanpa mengatakan apa tujuannya. Ia hanya berkata bahwa ia ingin Yoomi menemaninya minum malam itu. Tanpa berpikir apapun, Yoomi langsung mengiyakan ajakan Junseo karena menemani Junseo bukanlah hal yang aneh bagi Yoomi.

Beberapa menit berlalu dan keduanya hanya terdiam. Sesekali Yoomi melirik ke arah Junseo, ingin bertanya sebenarnya apa yang terjadi mengapa Junseo terlihat sangat serius dan apa tujuannya mengajak Yoomi ke tempat ini. Tapi niatnya tak kunjung dilakukan karena melihat raut wajah Junseo yang tampak sangat serius sehingga Yoomi jadi menerka-nerka apa sesungguhnya yang ada di dalam pikiran Junseo. Mungkinkah sesuatu yang buruk baru saja terjadi?

"Yoomi-ya," Yoomi refleks menolehkan kepalanya ke arah Junseo.

"Ya? oppa kenapa? Apa ada masalah?" Raut wajah sang gadis tampak sangat khawatir.

Sementara Junseo masih juga belum menoleh ke arahnya, hingga beberapa saat kemudian, Junseo menatapnya dengan tatapan yang sangat serius, "coba kalau kamu mendengarkan jawabanku waktu itu—"

Jeda waktu yang diberikan membuat Yoomi semakin penasaran dengan apa yang ingin dibicarakan oleh Junseo. Wajahnya tampak bingung, "apa? Jawaban untuk apa?"

"—mungkin sekarang kita sudah bersama." Junseo masih belum mengalihkan pandangannya dari Yoomi.

Yoomi yang terkejut mendengar pernyataan Junseo hanya bisa terdiam dan akhirnya kembali mengingat kejadian beberapa waktu lalu. Sudah beberapa bulan berlalu sejak Yoomi menyatakan perasaannya pada Junseo. Pikirnya, Junseo sudah lupa akan hal itu. Lagipula selama ini mereka juga tidak pernah membahas masalah itu. Lalu mengapa tiba-tiba Junseo mengatakan bahwa ia juga menyukai Yoomi? Terlebih di saat Yoomi sudah memiliki kekasih, "kenapa?" Pernyataan dari Junseo memang patut untuk dipertanyakan, "kenapa oppa mengatakan ini sekarang? Kenapa kemarin oppa hanya diam?"

"Karena kamu tidak memberiku kesempatan." Jawaban Junseo membuat Yoomi kehabisan kata-kata. Memang saat itu Yoomi yang tidak mengizinkan Junseo untuk merespons ucapannya, namun bukankah Junseo bisa mengatakan sesuatu? Lagipula saat itu Junseo tidak pernah mengatakan apa-apa sehingga Yoomi pun beranggapan bahwa memang benar hanya dirinya yang menyukai Junseo sementara laki-laki itu hanya menganggap Yoomi sebagai seseorang yang sudah ia kenal sejak lama.

"Tapi—" belum sempat Yoomi menyelesaikan kalimatnya, Junseo telah mendaratkan sebuah ciuman di bibir sang gadis sehingga ia pun sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Segala sesuatu yang sudah disusun rapi dalam kepalanya tiba-tiba hilang begitu saja. Beberapa detik berlalu dan Yoomi masih tidak percaya dengan apa yang dilakukan Junseo, namun pada akhirnya, gadis itu membalas ciuman yang diberikan oleh Junseo, cukup lama. Yoomi bisa merasakan hangat napas Junseo di wajahnya karena memang sudah tidak ada jarak lagi di antara mereka. Hanya saja Yoomi teringat bahwa ia tidak seharusnya melakukan hal ini dengan Junseo. Kedua tangannya langsung mendorong bahu si pemuda hingga kembali tercipta jarak di antara mereka.

Perasaan bersalah menyeruak di dalam dada Shin Yoomi, "kalau saja oppa datang lebih cepat. Saat ini keadaannya sudah berbeda." Dadanya terasa penuh dengan perasaan bersalah dan sesal yang teramat dalam. Baru saja ia melakukan sebuah kesalahan yang akan menyakiti orang lain. Tapi egonya tidak ingin mengalah karena jujur saja ia juga menginginkan Junseo. Hanya saja hal itu tidak mungkin karena Yoomi harus memilih dan ia pun sudah memutuskan untuk memilih orang lain.

.
.
.
.
.
I have to hold you back, but words won’t come out
And you’re already drifting apart


This post has been edited by Shin Yoomi: Dec 22 2017, 05:35 PM

--------------------
Why do I want you so much?
As if you’re my breath, my day and night
Tonight I’m holding onto you ©
PM
^
Seon Junseo
 Posted: Dec 31 2017, 09:19 PM
Quote
send pm // Offline
79 posts
30 years old
senior resident of neurosurgery dept.
ID: junseo_seon
taken
Citizen

820 points
Awards: None


Akhirnya baca ini sampai habis dan bukan cuma skimming.

Yoomi-ya, kamu harus bahagia ya meskipun bukan sama oppa : )

This post has been edited by Seon Junseo: Dec 31 2017, 09:20 PM

--------------------
Superstitiously, ;
I'm watching my words All of my words Now Like a birthday wish Don't say it out loud Never out loud Yeah I want to tell everyone That you are, you are my only one Screaming at the top of my lungs But I'm whispering, I'm whispering, I'm whispering Cause I don't wanna jinx it
PM
^
Shin Yoomi
 Posted: Jun 28 2018, 10:41 PM
Quote
send pm // Offline
245 posts
27 years old
Auditor
ID: shinyoo90
not telling
Citizen

2690 points
Awards: 5



Disclaimer:
1.101 words. Shin Yoomi adalah karakter milik saya, sedangkan karakter lain yang disebutkan di sini adalah milik PM masing-masing. Mohon maaf jika ada pergerakan yang tidak sesuai. Cmiiw.



"I see myself in the mirror, completely wet—"


Shin Yoomi terdiam—hanya menatap refleksi dirinya di depan cermin. Baginya, tidak ada masa yang paling berat selain saat ini. Masa di mana semua orang menyimpan rahasia mereka rapat-rapat dari dirinya. Masa di mana semua orang pergi meninggalkannya demi orang lain yang lebih penting. Ia tahu, bahwa ia tidak berhak untuk meminta penjelasan dan ia juga sangat mengerti jika semua orang muak dengan sikapnya yang selalu saja meragukan orang lain. Namun, bukankah mereka juga yang membuatnya menjadi seperti sekarang ini?

Menyedihkan.

Satu kata yang sungguh tepat untuk menggambarkan keadaannya saat ini. Senyum, ambisi, dan keangkuhan yang sering terlihat di wajahnya sudah tidak ada. Hanya tersisa keraguan dan ketakutan. Dalam hati, ia bahkan terus bertanya bisakah ia melewati semua ini? Akankah ia menjadi seseorang yang lebih kuat nanti?

***


Saat itu, satu minggu setelah pertemuan terakhirnya dengan Jung Jaeho. Meski begitu, masih jelas dalam ingatannya segala sesuatu yang terjadi malam itu. Tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulutnya di hadapan Seon Junseo—laki-laki itu sudah tahu kalau hubungan Yoomi dan Jaeho sudah selesai sejak satu bulan yang lalu.

Tangannya masih mengaduk-aduk malas makanan di atas meja. Tidak ada sedikit pun keinginan untuk segera menyantap hidangan. Wanita itu bahkan tidak mendengar dengan jelas apa yang telah dikatakan Junseo padanya. “Maaf, oppa bilang apa tadi?” Mengulang pun seakan percuma. Tubuh dan jiwa wanita itu seperti tidak berada di dalam satu tempat.

Memang benar karena sejak tadi, ingatannya terus saja memutar kejadian beberapa hari lalu yang membuat hatinya terasa nyeri.

Junseo masih menatapnya dalam diam membuat Yoomi kembali bertanya, “Kenapa?” Dengan tatapannya yang terlihat begitu lesu.

“Kenapa tidak makan?”

Gelengan pelan dari Yoomi merupakan sebuah jawaban bahwa ia masih tidak ingin makan apapun. Lalu membiarkan hening kembali mendominasi keduanya. Shin Yoomi sendiri tidak mengerti mengapa Junseo tiba-tiba datang dan mengajaknya untuk makan malam. Jika malam ini sama seperti yang sudah-sudah, maka jelas sudah kalau laki-laki itu memiliki sesuatu untuk dikatakan pada Yoomi.

Oppa ingin mengatakan apa?” Seakan tidak ingin berlama-lama, Yoomi langsung bertanya mengenai alasan utama mereka berada di sini.

“Aku mau membicarakan sesuatu.” Laki-laki itu menurunkan gelas anggurnya.

“Apa?” Semakin lama Junseo menahan kata-katanya, semakin Yoomi merasa penasaran. Jantungnya bahkan berdegup lebih cepat. Selamai ini, Junseo adalah pribadi yang sulit sekali ditebak. Meski mereka adalah teman lama, Yoomi tidak pernah tahu apa yang sebenarnya disimpan oleh Junseo. Laki-laki itu tergolong orang yang cukup tertutup.

“Aku akan menikah.”

“Eh? Kenapa mendadak sekali? Bukankah oppa bilang akan mengenalkannya padaku?” Meski ia tahu bahwa yang satu ini bukan keharusan. Namun, Junseo sendiri yang mengatakan bahwa laki-laki itu akan mengenalkan kekasihnya pada Yoomi. Setidaknya Yoomi ingin tahu siapa dan bagaimana gadis yang akan menikah dengan Junseo.

“Kamu sudah tahu siapa dia.” Informasi yang terputus-putus membuat Yoomi mengerutkan dahinya. Tidak banyak orang yang ia ketahui dan sedang dekat dengan Junseo. Jadi, pernyataan Junnseo yang barusan itu membuat Yoomi semakin penasaran. “Kamu sudah tahu Kwon Aeri, kan?”

Satu hal yang sangat ia inginkan saat itu adalah ia mendadak tuli dan salah mendengarkan kata-kata Junseo, tapi sepertinya apa yang ia dengar tidaklah salah. Wanita yang akan menikah dengan Junseo adalah seseorang yang selama ini selalu menyebabkan kekesalan bagi Yoomi.

Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut wanita itu. yoomi bahkan masih terlalu bingung bagaimana harus merespons kabar yang baru saja ia dengar. Wajahnya tampak begitu bingung. Ia bahkan tidak bisa menatap Junseo. Garpu yang sedari tadi ia pegang langsung ia letakkan begitu saja—tangannya gemetar. Maka dari itu Yoomi merasa perlu menyembunyikannya.

“Yoomi-ya,”

Panggilan dari Junseo membuat wanita itu kembali dari dunianya sendiri. Kedua maniknya menatap lurus ke arah Junseo. “Kenapa baru mengatakannya sekarang?” Sebagaimana ia bingung harus memberikan respons seperti apa pada laki-laki di hadapan, ia juga bingung dengan alasan Junseo yang baru memberitahunya sekarang.

Persiapan pernikahan butuh waktu cukup lama. Jadi, mereka sudah merencanakan ini sejak lama? Apakah semua orang sudah tahu tentang hal ini? Apakah hanya ia yang menjadi orang bodoh di antara mereka semua?

Matanya mulai berkaca-kaca. Entah mengapa dadanya terasa begitu sakit. Ia tahu, seharusnya ia ikut berbahagia atas kabar ini. Bukankah itu yang dinamakan seorang sahabat?

“Bukankah oppa mengatakan kalau kalian hanya memiliki hubungan bisnis?” Terdiam sejenak sebelum kembali melanjutkan kalimatnya. “Ah ... aku lupa kalau pernikahan juga sebuah bisnis bagi orang macam kalian.” Sindirnya. Seharusnya Yoomi sudah bisa menduga kalau ini akan terjadi mengingat mereka berasal dari keluarga kaya dan hal seperti ini sudah biasa terjadi.

“Jadi apa yang akan oppa dapatkan dari dia? Jadi direktur rumah sakit? Saham perusahaan?” Jujur saja, Yoomi benar-benar kesal mendengar kabar ini.

Bukan pernikahan Junseo yang membuat Yoomi sedih dan kesal, melainkan semua rangkaian kejadian sebelum ini. “Kenapa selama ini oppa diam saja kalau aku menceritakan segala ketakutanku karena dia?” Seon Junseo tahu betul apa yang terjadi padanya beberapa bulan terkahir dan apa yang selalu membuatnya khawatir. Namun, laki-laki itu tidak pernah mengatakan apapun. Tidak satu pun kata mengenai hubungannya dengan Aeri yang ia katakan pada Yoomi.

“Bukankah saat itu, oppa bisa membuatnya berhenti menganggu kami?” Suaranya tercekat. Namun, tidak membuat Yoomi berhenti menghujani Junseo dengan berbagai pertanyaan. “Oppa bahkan tahu semuanya, tapi oppa diam saja. Kenapa?” Junseo bahkan melihat seburuk apa keadaannya saat itu.

Yoomi sendiri tidak terlalu peduli dengan segala jawaban yang akan dikatakan Junseo padanya. Wanita itu hanya ingin mengeluarkan semua pertanyaan yang langsung membanjiri benaknya. “Aku kira kita teman?” Saat itu juga, Yoomi sudah tidak bisa lagi menahan air matanya. Sungguh sakit rasanya karena selama ini ia selalu menganggap Junseo adalah satu-satunya orang yang berada di sisinya. Namun, sepertinya ia salah. Mungkin memang hanya ia sendiri yang beranggapan bahwa mereka dekat.

“Yoomi-ya,” Tangan Junseo terulur ke arah Yoomi. Dulu, Yoomi mungkin akan merasa lebih baik jika laki-laki itu melakukan hal ini, tapi saat ini, apapun yang dilakukan Junseo hanya membuatnya muak.

Satu tangannya menepis uluran tangan Junseo. Ia tidak ingin membiarkan dirinya terlihat begitu lemah di hadapan Junseo seperti yang selalu ia tunjukkan selama ini. “Selamat.” Satu tangannya terangkat untuk memanggil pelayan dan meminta bill pesanan mereka. “Aku bahkan tidak tahu doa apa yang pantas aku berikan untuk kalian berdua.” Ujarnya sesaat setelah pelayang pergi untuk memproses pembayaran.

Wanita itu langsung beranjak begitu kartunya sudah kembali di tangan. “Aku harap kalian hidup menderita sepanjang hidup kalian berdua.”

***


Mereka berkata bahwa kehilangan merupakan suatu hal yang wajar. Dalam kehidupan, akan ada yang datang dan pergi. Namun, segala hal yang mereka lewati bersama selama ini, membuat Yoomi cukup merasa kehilangan. ia merasa tidak akan pernah bisa untuk mendapatkan kebahagiaannya lagi dan akan lebih sulit baginya untuk mempercayai orang lain setelah apa yang terjadi selama ini. Tapi bukankah semua ini yang akan membuatnya menjadi lebih kuat untuk berdiri di atas kedua kakinya sendiri?


.
.
.
.
.
I’m acting like a crazy child in the mirror
I cry for 24 hours till I get exhausted
Since when did we go wrong
Even my existence becomes pointless
I can see how pathetic I am in the mirror

--------------------
Why do I want you so much?
As if you’re my breath, my day and night
Tonight I’m holding onto you ©
PM
^
1 User(s) are reading this topic (1 Guests and 0 Anonymous Users)
0 Members:

Topic Options
Add Reply
New Topic
New Poll


 


 

Affiliates [ View All | Link-us | Apply ]
Toshi Haku Battle Royale RPG Forum Sekolah Sihir Hogwarts Smiley Academy (SA) SAD (Shinobi Another Dimension) Indo Eyeshield 21 Bauklötze - Shingeki no Kyojin RPF Tales of Middle Earth The Black Clover Vampire Knight:re Legend of Terra Yuugen Vault 546 SoulMatch RPF 
 


skinned exclusively by ree of shine. cfs by black. modified by neng. do not reproduce.