WBEntxSeoul2.0

Latest Shouts In The Shoutbox -- View The Shoutbox · Rules Collapse  


Pages: (2) 1 2  ( Go to first unread post )
Add Reply
New Topic
New Poll

 [FIN]xmas presents come and go, xmas memories last a lifetime, spin and write challenge; p.22
In Boram
 Posted: Dec 5 2017, 08:50 PM
Quote
send pm // Offline
36 posts
17 years old
Bendahara kelas 2-3 SMA Guro
ID: talisman | boraboram
happily dating myself
Citizen

1060 points
Awards: 2



Teman-temannya sudah pulang sedari tadi dan tersisa dirinya dengan si ketua kelas. Berkat gagasan yang dicetuskan salah satu teman sekelasnya untuk membuat acara kelas agar mereka jauh lebih akrab, yaitu bertukar kado dan acara kecil-kecilannya. Sesuai pengambilan suara, sebagian besar (Boram tidak termasuk, omong-omong) setuju dekorasi sederhana itu diambil dari iuran kelas. Kecuali, untuk kadonya. Ada batas uang untuk membeli hadiah yang akan dibagikan secara acak. Maka, Boram sedang direpotkan bagaimana caranya uang iuran yang selama ini dikumpulkan setengah mati tidak terbuang sia-sia hanya untuk hiasan satu acara. Mungkin ia tidak akan sekesal ini kalau untuk dialokasikan sebagai konsumsi.

Ia sedang membuka buku catatan iuran dan juga menghitung uang yang terdapat di tas kecil khusus menaruh uang tersebut. "Kenapa harus ada dekorasi segala? Padahal, kan, bisa bawa hiasan di rumah dan dibawa. Daripada keluar uang." Masalahnya, ini bukan uang Boram dan tidak sepenuhnya dirinya bisa mengatur. Kalau uangnya sendiri, ia memilih untuk menabungnya.

"Lalu tukar kado lagi." Boram terlihat jengkel meskipun tidak terlihat ada perubahan berarti. Wajahnya selalu seperti itu. Tidak heran predikat ketus selalu melekat padanya. "Enggak semuanya punya uang lebih buat itu, kan? Harusnya kado itu ada niat kan?" Ia menarik napas dalam-dalam agar intonasinya tidak naik satu oktaf. "Kalau tidak, apa gunanya?"

Kalau bertukar kado hanya sebuah formalitas (juga paksaan), seharusnya tidak perlu saja sekalian?

Soalnya tidak terasa spesial, bukan?

This post has been edited by In Boram: Dec 13 2017, 09:31 PM

--------------------
PM
^
Geum Naran
 Posted: Dec 5 2017, 09:30 PM
Quote
send pm // Offline
53 posts
15 years old
pelajar dan ketua kelas 2-3 SMA Guro
ID: naranaran
too young to understand love
Hiatus

1190 points
Awards: 4



Tolong, tolooong. Naran mau pulang sajaaa.

Jerit suara hatinya itu bukan hanya berlandaskan Naran malas berlama-lama di sekolah saja, tapi juga... karena... dia hanya berdua dengan bendahara kelas. In Boram yang galaknya ampun-ampun. Yang baru melihat wajahnya saja Naran sudah merinding ketakutan. Lebay, tapi serius. Ya gimana habis mukanya jutek terus begitu! Naran mau mendekati duluan kan jadi takut! Nggak ingat deh gimana akhirnya mereka bisa kenalan, mungkin malah nggak pernah ada momen kayak gitu. Kayaknya Naran cuma hapal 'oh itu In Boram' saat perkenalan kelas pertama kali, dan hasil curi-dengar teman-teman sekelas yang memanggil Boram. Selebihnya, Naran nggak ada usaha untuk menggapai. Takut.

Sekarang, dia duduk berhadap-hadapan dengan Boram. Buku catatan iuran kelas terbuka di antara mereka, siap ditelaah untuk tahu diambil berapa. Naran sendiri nggak ada ide. Harus riset ke toko-toko dulu kan baru bisa tahu... hmmmm.

"Setuju," Naran mengamini. Beli sendiri memang buang-buang uang. "Pantiku sering mengadakan acara begituan, jadi banyak pernak-pernik...," meski sebagian sudah usang, dimakan zaman. "Apa diam-diam kita pakai dekorasi pantiku saja, Boram?" Naran bertanya, sambil lirik kanan dan kiri. Takut ada yang menguping.

Tapi, kalau masalah tukar kado, Naran setuju untuk diadakan. Rasanya ya... seru saja, gitu. Kendati apa yang dikatakan Boram benar, nggak semuanya punya uang lebih untuk membeli kado. "Memangnya Boram benar-benar nggak berniat memberi kado?" Padahal niat itu penting. Kado mau semahal apapun kalau niatnya nggak baik ya tetap saja jadi buruk, kan. "Kan cuma sekali setahun, Boram-ah. Nggak apa-apa kali...," suara Naran makin pelan. Takut disalak oleh Boram.

This post has been edited by Geum Naran: Dec 5 2017, 09:36 PM

--------------------

You and I, if we’re together

We can smile

Will you hold my hand?

©
PM
^
In Boram
 Posted: Dec 6 2017, 04:41 AM
Quote
send pm // Offline
36 posts
17 years old
Bendahara kelas 2-3 SMA Guro
ID: talisman | boraboram
happily dating myself
Citizen

1060 points
Awards: 2



Mendengar gagasan Naran membuatnya mendengus meremehkan, satu alisnya naik dengan kedua mata memicing seperti kucing. Apa yang baru saja didengarnya itu? "Kamu dengan idenya itu... apa enggak sama dengan berbohong?" tanyanya. Masalahnya pesan balasan Naran di SEtalk tentang uang iuran yang ceritanya Narah sudah bayar demi mempermudah mengoleksinya dari murid lain itu dibilang berbohong. Padahal, Boram hanya mau meringankan saja selama janji pertengahan bulan akan dibayar itu ditepati. Ucapannya memang sindiran. Hanya dengan melihat wajah Boram, semuanya terlihat seperti sarkasme atau segala kesan sinis. "Mungkin besok kita bilang aja kalau dananya jangan lari ke dekorasi yang bisa digunakan dari yang sudah dimiliki di rumah masing-masing. Dari pantimu juga enggak apa-apa."

Iya. Mau dari panti pun Naran bukan pengecualian. Justru kalau sikapnya hati-hati malah bisa membuat cowok itu tersinggung.

"Bisa dibersihin atau dipoles. Enak aja kita yang repot doang. Kalau ini memang acara bersama, lebih baik yang lain ikut partisipasi. Entah itu jadi berkarya untuk dekorasi." Hitung-hitung berkreasi dan melakukan kerja sama. Mereka harus capek bersama-sama. Dikira In Boram tidak punya kehidupan lain apa? Memang bukan bersosialisasi seperti umumnya anak cewek dengan teman-temannya, melainkan melakukan pekerjaan rumah dan tugas yang dibawa pulang.

Boram agak terkejut ternyata Naran saja tidak keberatan memberi kado. Jadi, Naran dan Boram itu kurang lebih tidak ingin mengeluarkan banyak uang. Bedanya Naran itu hemat, Boram itu pelit.

"Memangnya kamu mau kasih kado apa?"

--------------------
PM
^
Geum Naran
 Posted: Dec 6 2017, 06:45 PM
Quote
send pm // Offline
53 posts
15 years old
pelajar dan ketua kelas 2-3 SMA Guro
ID: naranaran
too young to understand love
Hiatus

1190 points
Awards: 4



"Berbohong demi kebaikan kan nggak apa," apa tuh istilahnya..., "lying white." Apalah, terserah. Naran sedang membela diri karena nggak mau dianggap berbohong, meskipun... ya... memang benar sih, jatuhnya jadi berdusta kepada kawan-kawan. Ya habis gimana?! Daripada buang-buang uang untuk barang yang sebenarnya sudah ada. Rupanya Boram punya cara yang lebih jujur, dengan ngomong ke anak-anak sekelas besok tentang rencana mereka. Naran jadi malu. Naran agak meringkuk di bangkunya, bibir dirapatkan membentuk garis lurus.

"Ya sudah, begitu saja," begitu apanya, "besok kamu yang bilang, ya? Biar pada patuh." Kalau Naran yang ngomong, belum tentu teman-temannya setuju. Yang ada Naran dilemparin bola kertas, dibilang nggak konsisten. Duh, apaan nih... masa ketua kelas cemen... cupu... pulang saja, Ran, pulang... lengser dari jabatan sana....... "Tapi kira-kira pada mau nggak ya ikutan bersih-bersih dekorasi. Disuruh piket saja kadang-kadang ada yang mangkir...," terus, jadi Naran yang sukarela membersihkan kelas. Takut kena marah guru besoknya, soalnya. Jadi ketua kelas memang banyak pengorbanan.

Nah, omong-omong kado, sebenarnya Naran juga nggak tahu mau kasih apa. Yang penting murah sih, soalnya uang Naran kan nggak banyak. Naran saja nabung dua minggu buat ke kolam renang, nah sekarang kalau buat kado teman-temannya Naran harus menabung lagi. Atau ambil dulu uang di tabungan, nanti diganti di kemudian hari. "Apa, ya, belum kepikiran," katanya sambil memandangi langit-langit, seolah ada jawaban di sana, "mungkin standar kayak diari, atau botol minum, atau dompet kecil. Yang murah saja." Nyengir. Maklum, miskin.

"Kamu sendiri sudah terpikir mau beli kado apa, Boram-ah?"

--------------------

You and I, if we’re together

We can smile

Will you hold my hand?

©
PM
^
In Boram
 Posted: Dec 7 2017, 06:15 PM
Quote
send pm // Offline
36 posts
17 years old
Bendahara kelas 2-3 SMA Guro
ID: talisman | boraboram
happily dating myself
Citizen

1060 points
Awards: 2



"White lies, Ketua Kelas," Boram mengoreksi bersamaan dengan dengusan. "Mau putih atau hitam, namanya bohong ya bohong." Bagi Boram, tidak ada berbohong meskipun untuk alasan yang baik. Lebih baik pahit, tetapi kenyataannya. Dibohongi berarti dibodoh-bodohi, Boram tidak mau seperti itu. Apalagi seseorang yang memiliki krisis kepercayaan.

Naran berkata bahwa lebih baik dirinya yang berbicara kepada teman sekelas besok. Biar nurut, katanya. "Oke," ujarnya setuju. Toh, ide itu juga berasal dari Boram jadi ia tidak ada masalah dengan itu. "Ya, harus mau. Kalau acara ini buat memperkuat kebersamaan, seharusnya persiapannya juga bersama-sama. Suka dan duka, repot. Kalau enggak, pada ke laut aja sana." Jadi, tidak ada yang pihak yang enaknya saja ataupun yang repot saja. Semuanya harus kebagian perannya masing-masing. "Ya, kalau mau... kita pancing dengan uang dekorasi lebih baik buat konsumsi. Mungkin pada setuju."

Atau, Boram akan mengeluarkan sisi yang selama ini disaksikannya ketika Abeoji ditagih utang. Dari yang baik-baik sampai mengancam.

Refleks, Boram ikut-ikutan melihat ke atas langit-langit. Bertanya-tanya ini ketua kelas lihat apa, sih. Boram mencibir. "Kado yang umum banget, ya." Kalau memang ada tukar kado, Boram berharap ia tidak mendapatkan kado dari Naran. Kemudian Boram ditanya mau memberi kado apa. "Sama kayak kamu... yang murah tapi enggak murahan." Memangnya apa coba?

"Kasih voucher restoran atau tempat belanja bisa enggak, sih?"

Soalnya Boram mengumpulkan voucher-voucher tersebut. Sayangnya, syaratnya harus sesuatu yang dibeli.

"Bingung. Niatnya aja enggak ada, mana kepikiran kasih kado apa."

--------------------
PM
^
Geum Naran
 Posted: Dec 7 2017, 07:01 PM
Quote
send pm // Offline
53 posts
15 years old
pelajar dan ketua kelas 2-3 SMA Guro
ID: naranaran
too young to understand love
Hiatus

1190 points
Awards: 4



"Oiya, itu," cengengesan. Malu, kesalahannya ketahuan. Lebih malu lagi, begitu kata bohong ditekankan. Bohong ya bohong. Ya... iya sih... Naran semakin meringkuk di bangkunya. Mendadak merasa begitu kecil dibandingkan Boram. Padahal, tentu saja dong Naran lebih besar. Lebih tinggi juga. Kan, laki-laki. "Ya sudah deh, nggak pakai bohong-bohongan. Aku jadi merasa berdosa banget kalau bohong." Demi kenyamanan dan ketenangan hati, ambil jalan yang lurus saja. Nggak usah berdusta.

Naran lalu menghela napas lega, ketika Boram setuju menjadi juru bicara besok. Senggaknya, Naran nggak akan dihujat, nggak akan dikata-katai nggak konsisten dan semacamnya. Kalau ke Boram, kayaknya anak-anak sekelas pada takut. Ya iya, galak begitu. Kalau Naran mah apa, letoy, lembek, jadi ketua kelas juga gara-gara disuruh doang, kan. Sebetulnya nggak mau, tapi kena apes. Nggak bisa menolak lagi, karena mayoritas suara memutuskan demikian. Hufty.

"Tapi konsumsi bisa bawa dari rumah masing-masing juga, kan," celetuknya, "jadi uang kas aman, nggak usah diambil. Nanti akhir tahun dibagi-bagikan lagi ke sekelas." YEU, KALAU BEGITU MAH BUKAN UANG KAS NAMANYA, ROJALI. Itu mah menabung di bendahara, gimana sih. "Memang uang kas kita sudah banyak? Bisa dipakai buat memesan makanan dari luar, gitu?" Restoran mah mahal-mahal, Naran sangsi uang kas cukup menutupi konsumsi.

Kadonya dibilang umum. Naran nggak bisa menolak, karena memang iya. Jadinya ikut-ikut mencibir, sok kesal. Padahal ya nggak beranilah kesal sama Boram, nanti digigit. Naran terkikik mendengar kata voucher. Ajaib juga Boram sampai kepikiran. "Coba, siapin niat dulu, deh," katanya, "untuk membuat teman senang. Nanti kamu kan juga senang kalau dapat kado."

--------------------

You and I, if we’re together

We can smile

Will you hold my hand?

©
PM
^
In Boram
 Posted: Dec 8 2017, 07:52 PM
Quote
send pm // Offline
36 posts
17 years old
Bendahara kelas 2-3 SMA Guro
ID: talisman | boraboram
happily dating myself
Citizen

1060 points
Awards: 2



Naran setuju jangan berbohong, Boram mengangguk penuh kemenangan. Pada dasarnya, kekalahan bukan sesuatu yang bisa diterima dengan mudah. Kejadian yang lalu menempanya menjadi pribadi yang keras.

Berbicara dengan Naran ternyata butuh kesabaran ekstra. Ia kira hanya berlaku untuk mengobrol di SEtalk saja seperti ini. Ternyata, mengobrol lama langsung seperti ini jauh berbahaya. Mukanya di depan mata, tangannya sudah gatal ingin sekadar menoyor. Atau, dorong mukanya ke arah lain. Tahan. Sabar. Boram kuat. Ini cobaan. Orang sabar rezekinya banyak. Tetapi, kenapa Boram tidak kaya-kaya kalau sabar terus?

"Yah, memang bisa, sih. Minta ke orangtua masing-masing." Kalau Boram, sih, menolak keras. Di rumahnya dirinyalah yang kebagian peran memasak. Repot. Jadi, ia tidak mau. "Kalau aku, sih, enggak. Udah repot urus beginiannya." Lagi pula bawa dari rumah harus menggunakan uang sendiri. "Siapa tahu mau pesan pizza atau apa, kek. Cari yang promolah biar enggak mahal-mahal amat. Kreatif dong." Terbiasa mencari celah untuk membayar murah, Boram itu. "Ya bisa dicukup-cukupin, kok. Teman sekelas aja yang perlu sadar perut masing-masing. Dijatah. Jangan satu orang ambil satu loyang pizza begitu."

Yang ada nanti malah perang sekelas, memberantasi orang-orang maruk di acara bersama.

"Senang, ya?" gumamnya. Boram berpikir keras sampai alisnya nyaris bertemu di pertengahan dahi. Tangan bersedekap, punggungnya menyentuh sandaran kursi. Kalau dipikir-pikir, ia memang jarang menerima kado. Jadi, ia merasa hal itu tidak begitu penting. Pun, lupa itu akan membuat senang atau tidak. "Kalau kamu bakal senang nerima kado?"

Jeda.

"Misalnya dapat kado umum seperti idemu?"

Tahunya seisi kelas kadonya begituan semua. PELIT AMAT.

SENDIRINYA!


--------------------
PM
^
Geum Naran
 Posted: Dec 8 2017, 09:19 PM
Quote
send pm // Offline
53 posts
15 years old
pelajar dan ketua kelas 2-3 SMA Guro
ID: naranaran
too young to understand love
Hiatus

1190 points
Awards: 4



Memberatkan ya, kalau minta ke orangtua? Ibu sudah cukup sibuk dengan anak-anak panti yang jumlahnya banyak, belum lagi Sagang yang kalau makan suka rakus. Naran mau minta dibuatkan konsumsi ke Ibu, jadi ragu sendiri. Lalu, ini Naran ngobrol sama Boram sudah kelihatan banget begonya. Boram pintar banget, bisa kepikiran hal-hal yang nggak Naran pikirin. Atau Naran saja yang bodoh? Nggak kreatif, soalnya hidup berputar di situ-situ saja. Panti, sekolah, panti, sekolah. Cuma tahu belajar dan menabung. Kalau disuruh memikirkan acara kelas, langsung K.O. Nggak mengerti apa-apa.

"Boram saja deh yang jadi ketua kelas, lebih pintar," nggak nyambung sama yang dikatakan Boram, alih-alih Naran malah bilang begitu. "Aku lengser saja deh." Letoy, nggak ada guna, di kelas cuma bagian siap, grak! doang. Kembali ke topik uang kas dan konsumsi, Naran kemudian punya ide. Seperti ada lampu yang berbinar di atas kepalanya. "Boram, atau kita masak bareng sekelas saja. Menurutmu bagaimana?" Ya, bakal susah mengumpulkan anak-anak sekelas, sih. Tapi boleh dicoba..., siapa tahu pada suka masak. "Atau kumpulin anak-anak cewek yang suka masak, nanti bahannya dibeli pakai uang kas."

Dia pikir, idenya sudah jitu. Nggak tahu Boram menanggapinya bagaimana. Boram kan cerdik, tahu-tahu pikiran Naran disleding.

"Kalau kamu bakal senang nerima kado?"

"Senang, dong--"

"Misalnya dapat kado umum seperti idemu?"

"--yeu, nggak jadi."

Naran cemberut. Maunya dia dapat kado yang mahal atau bagus, bukan diari atau kotak pensil. Apalagi gantungan kunci. "Apa harus beli kado yang nggak umum ya, biar dapat yang bagus juga," Naran menyangga dagunya dengan tangan kanan, berpikir.

--------------------

You and I, if we’re together

We can smile

Will you hold my hand?

©
PM
^
In Boram
 Posted: Dec 9 2017, 07:21 PM
Quote
send pm // Offline
36 posts
17 years old
Bendahara kelas 2-3 SMA Guro
ID: talisman | boraboram
happily dating myself
Citizen

1060 points
Awards: 2



Boram memutar bola matanya, jengkel, mendengarkan Geum Narah yang ingin menyerahkan jabatannya sebagai ketua kelas. Malah melempar jabatan itu lebih baik untuk Boram. Masalahnya ia tidak tahu cara menghibur yang baik. "Naran sudah dipilih, artinya dipercaya." Badannya terasa gatal-gatal mengucapkan kalimat yang sepertinya mengarah pujian untuk orang lain. Geli. "Mungkin karena Naran itu gampang disuruh-suruh." Terakhirnya tetap tidak enak. Ia kembali seperti Boram biasanya. "Lagi pula raja aja kan butuh penasihat untuk memutuskan sesuatu." Jadi, tidak perlu Boram yang jadi ketua kelas. Pemikir belum tentu sukses menjadi pelaksana.

Tadinya mau menyemangati sembari menepuk pundah Naran dan berakhir tenaga yang tidak bisa dikontrol sehingga lebih tepat memukul.

"Masak, ya? Jadinya repot berlipat kali. Sudah harus mendekorasi terus membersihkan sisanya. Masak juga begitu, repot persiapan dan membersihkannya. Nanti malah jadi enggak menikmati acaranya. Bawa makanan aja ditambah beli sesuatu pakai uang kas." Pikiran Boram itu biasanya sampai ke hal kecil-kecil. Semisalkan orang berpikir baru sampai B, Boram sudah sampai Z.

Terus tentang mendapatkan kado umum itu saja Naran tidak mau. Padahal, tadi dia sendiri yang bilang mau beli kado semacam itu.

"Kan."

Boram mendengus.

"Meski niat tapi kadonya standar juga belum tentu bikin senang orang." Boram mengatakan kenyataan pahit. "Ya untung-untungan sih tukar kado itu. Kalau dapat dari yang kaya, mungkin kita bisa dapat kado yang lebih wah?" Sekalian pamer, semisalnya.

"Nah, jadi bingung, kan?"

Setidaknya Boram tidak bingung sendirian.

"Yang bermanfaat juga harus itu buat kado."

Sekalian saja buku latihan soal.

--------------------
PM
^
Geum Naran
 Posted: Dec 9 2017, 09:05 PM
Quote
send pm // Offline
53 posts
15 years old
pelajar dan ketua kelas 2-3 SMA Guro
ID: naranaran
too young to understand love
Hiatus

1190 points
Awards: 4



"Naran sudah dipilih, artinya dipercaya."

Waduh, bisa juga mbak galak ngomong manis. Naran sudah semangat mau senyum.

"Mungkin karena Naran itu gampang disuruh-suruh."

Yeu, tetap akhirnya agak menyakitkan. Naran manyun, tapi nggak menyangkal. Ya memang benar sih, karena Naran anaknya patuh dan penurut jadi diapain saja mau. Ditumbalin jadi ketua kelas juga akhirnya pasrah. Nasib, nasib. Ya nggak apa deh, yang penting dapat rekan kayak Boram yang bisa tegas, jadi kalau ada apa-apa kan Naran bisa lari ke Boram. Muehehehe. (Ketua kelas di seantero Korea Selatan, jangan tiru sikap lepas tanggung jawabnya Naran, ya. Nggak baik!)

Terus, malah dipukul. "Aduh!" Naran mengusap-usap lengannya, kesakitan. Boram ini makan apa ya sampai tenaganya kayak kingkong. Hush, jangan bilang-bilang ke Boram, nanti Naran malah direndang atau diumpanin ke singa sirkus. Lebih baik kembali saja ke perencanaan acara kelas mereka. Tuh kan benar, usulnya disleding. Naran nggak bisa membantah karena masuk akal. Jadilah Naran menganggukkan kepala, tanda setuju. Sudah kapok kasih ide ke Boram, nanti dibanting lagi. Nasib deh yang kalah pintar.

"Ya sudah, jadi gitu saja ya. Aku rangkum, besok bilang ke kelas kalau uang kas lebih baik dipakai beli konsumsi, sementara dekorasi bisa dibawa masing-masing dari rumah terus nanti kita bersihkan bersama. Gitu?" Naran mengeluarkan kertas dan pulpen, lalu mencatat. Kalau nggak, Naran bisa lupa. Ya, meskipun yang ngomong bakalan Boram, tapi Naran kan bisa mengingatkan.

Masalah kado sekarang membuat Naran bingung. Padahal tadi sudah yakin mau kasih kado apa. Tanya dulu coba. "Memang Boram pengennya dikasih kado apa deh?"

--------------------

You and I, if we’re together

We can smile

Will you hold my hand?

©
PM
^
1 User(s) are reading this topic (1 Guests and 0 Anonymous Users)
0 Members:

Topic Options
Pages: (2) 1 2 
Add Reply
New Topic
New Poll


 


 

Affiliates [ View All | Link-us | Apply ]
Toshi Haku Battle Royale RPG Forum Sekolah Sihir Hogwarts Smiley Academy (SA) SAD (Shinobi Another Dimension) Indo Eyeshield 21 Bauklötze - Shingeki no Kyojin RPF Tales of Middle Earth The Black Clover Vampire Knight:re Legend of Terra Yuugen Vault 546 SoulMatch RPF 
 


skinned exclusively by ree of shine. cfs by black. modified by neng. do not reproduce.