WBEnt x Seoul 2.0

Latest Shouts In The Shoutbox -- View The Shoutbox · Rules Collapse  


Pages: (2) 1 2  ( Go to first unread post )
Closed
New Topic
New Poll

 [FIN] you: a heavy sunshine, closed.
Seo Seulhye
 Posted: Feb 4 2018, 07:42 PM
Quote
send pm // Offline
135 posts
23 years old
college student, florist
ID: julietseo
taken
Citizen

1390 points
Awards: 3



101 청담두산아파트, Cheongdam-dong, Gangnam-gu
3/2/18; 2:09am




Kelopak mata membuka paksa, keringat sebesar biji jagung jatuh dari pelipis. Gadis itu tidak memekik, tidak histerik, tampak sebisa mungkin mengatur komposur seolah-olah hal ini merupakan sesuatu yang lumrah—dan memang benar adanya. Kebanyakan orang berpikir kejadian semacam ini dipicu oleh mimpi buruk yang akhirnya menemui ujung, tetapi ia tidak. Katupan kelopak matanya membawanya pada hitam pekat, tanpa sinar maupun kabut. Meski demikian, dalam tidur tanpa mimpi itu Seulhye masih bisa merasakan tenggorokannya tercekat, seperti saluran pernapasannya tersumbat dan ia lupa caranya bernapas. Maka bisa ditebak, saat sepasang biji matanya menjumpai pemandangan langit-langit kamar yang begitu familier, Seulhye berusaha mengatur napas; membawa diri pada sebuah fakta melegakan bahwa ia ternyata belum mati.

Mati. Konsep ini terasa familier untuknya setiap malam, tidak semenakutkan di siang hari. Terbangun tiba-tiba semacam ini tampak sudah menjadi rutinitas yang tidak bisa dihindari, meski frekuensinya sudah jauh berkurang dibandingkan dulu. Dengan tenang, ia membawa lengannya untuk meraba nakas dan meraih ponsel. Menekan tombol kunci, sinar menyirami wajah sampai kedua matanya menyipit, tapi tidak menghalanginya untuk melihat angka yang tertera. Masih pukul dua, mungkin ia baru tidur satu jam. Kepalanya ditolehkan instingtif dan gadis itu menemukan sisi lain tempat tidur kosong. Taraf respons otak di malam hari tidak seburuk siang, karena Seulhye langsung tahu saat itu bahwa malam itu ia punya teman yang sama-sama terbangun di jam yang salah.

Singkat; ia meraih kardigan dan mengenakannya untuk menghalau dingin, kemudian berjalan keluar dan menemukan lampu dapur menyala temaram. Tidak sulit menemukan presensi Woong di sana, sebab Seulhye memang mencari. Langkahnya tidak serta-merta dibawanya mendekat ke arah pemuda, melainkan ke toilet selama beberapa menit. Wajahnya disapu dengan air wastafel, kemudian diusap perlahan dengan handuk yang menggantung. Ketika pada akhirnya ia benar-benar membawa kedua tungkainya mendekat ke arah Woong, yang ia lakukan hanyalah merapikan tatanan rambut yang berantakan dengan jari-jemari. Bibirnya tidak langsung melontarkan kata. Sulit merangkai komposisi kalimat ketika puncak dahinya sendiri ternyata masih berkeringat. Dingin.

"Jam dua," ia memulai dengan pernyataan tak terbantahkan. Melihat Woong dengan gelas di tangan, Seulhye turut bergerak melakukan hal yang mungkin dilakukan Woong belum lama: mengambil satu gelas lagi, mengisinya dengan air dan meneguknya perlahan. "Tidak biasanya terbangun di waktu-waktu ini. Semuanya baik-baik saja?" Putar pertanyaannya, maka Seulhye akan kesulitan mengiyakan. Akan tetapi, ini bukan pertama untuknya. Titik tumpu fokusnya ada pada Woong.

--------------------
we hope for a better tomorrow
I wonder to what extent we can love a world; gripped by fear, thrown into unrest?

x
PM
^
Jeon Woong
 Posted: Feb 4 2018, 11:22 PM
Quote
send pm // Offline
163 posts
24 years old
mahasiswa Sogang University
ID: jwoong
taken
Citizen

1630 points
Awards: 1



"Jam dua," adalah kalimat sederhana yang didengarnya saat masih sibuk memperhatikan gelas dengan tatapan nyaris kosong.

Woong tidak menghitung berapa menit yang dihabiskan untuk duduk di meja makan dengan segelas air yang isinya tinggal seperempat. Pemuda ini hanya bersingsut, menegakkan punggung sambil menoleh ke arah pintu masuk dapur untuk menjumpai Seulhye yang datang menghampiri sembari mengawalinya sebuah pernyataan. Pukul dua pagi bukanlah jam yang wajar bagi seseorang untuk terbangun dan memulai aktivitas, dan kini rasa-rasanya mereka berdua sedang menghadapi sebuah situasi yang sama. Dia tidak tahu alasan gadis itu terbangun pada pukul dua dini hari, tetapi Woong tidak lekas bertanya. Woong mengerti, karena Seulhye lebih dulu memberikan pertanyaan untuknya, dan kini gilirannya menjawab sebelum dia berhak untuk bertanya.

“Ya.”

Jawabannya sederhana. Hanya sebentar dia memperhatikan bagaimana Seulhye ikut mengambil air minum, sebelum Woong kembali memperhatikan gelasnya di atas meja. Napasnya dihela pendek, dan punggungnya kembali bersandar sebelum membiarkan pikirannya membuat berbagai sambungan abstrak dari potongan kisah di masa lalu. “Minum segelas air selalu membuat segalanya lebih baik.” Woong sendiri tidak mengerti tentang apa yang dimaksudkan dengan segalanya, karena menegak air minum adalah satu-satunya hal yang muncul di benak ketika dia terbangun dari tidur. Mimpinya aneh, dan dia ragu untuk terlelap kembali, takut jika mimpi yang sama datang.

“Kamu sendiri? Tidak tidur? Apakah aku membangunkanmu?”

Pertanyaannya disuarakan lirih, dan jika Seulhye mengiyakan nantinya, maka permohonan maafnya sudah berada di ujung lidah. Bunyi detak jarum jam di salah satu sisi dapur sempat menjadi jeda untuk beberapa saat sewaktu pikirannya kosong, dan dari satu-dua hal kecil yang sederhana, Woong mulai mengingat lagi.


(“Woong-ah, pulanglah dan tidur, besok kau harus berangkat ke sekolah.” Tujuh tahun yang lalu ibunya akan mengguncang lututnya ketika dia sempat tertidur menjelang tengah malam di kursi dekat tempat tidur pasien. “Ibu bisa di sini sedirian. Pulang, ya? Kamu bisa datang lagi besok setelah dari akademi.”

Dia mengiyakan, tetapi yang tidak Woong ketahui, ternyata dia tidak perlu datang lagi besok, maupun besoknya lagi, karena yang diperlukan sekarang adalah datang setahun sekali, pada tanggal tiga, bulan dua. Hari ini.)



--------------------
Eternal questions, always asking, feeling distressed
So come on and let me know
PM
^
Seo Seulhye
 Posted: Feb 5 2018, 09:59 AM
Quote
send pm // Offline
135 posts
23 years old
college student, florist
ID: julietseo
taken
Citizen

1390 points
Awards: 3



"Ya," yang benar-benar terdengar sebagai tidak di telinganya.

Seulhye tidak mencela, tidak juga menukas. Hanya mengangguk, mencoba memahami interpretasinya sendiri dalam benak. Tarikan napasnya masih diatur, kadang pendek kadang panjang. Suasana gelap dan hening pukul dua pagi menghambatnya untuk mencari obrolan distraksi, meski pada kenyataannya ia sedang ingin melarikan diri hanya dari dirinya sendiri, bukan dari Woong. Pemuda itu ditatapnya lama dari posisinya berdiri. Gelas yang sudah kosong masih berada di tangan, enggan dikembalikan ke tempatnya. Ucapan Woong soal segelas air itu hanya ditanggapinya dengan dengusan kecil dan senyum tipis, mungkin dalam hati ia mengamini.

Terbangun di pagi buta bukanlah masalah baru untuknya. Selalu ada malam-malam yang habis dalam sunyi lantaran ia tidak bisa terlelap meski kedua matanya terpejam. Ketika Woong kebetulan tinggal dan berbaring di sebelahnya, Seulhye yang tiba-tiba terjaga akan terus memejamkan mata meski kembali tidur setelah terbangun memiliki probabilitas kecil. Ini tampaknya yang pertama, melihat Woong terbangun dengan sesuatu yang janggal menguasai guratan wajah. Pemuda itu selalu tidur seperti bayi, jarang terjaga semalaman kecuali mereka dikuasai obrolan menarik. Ia tidak punya dugaan apa-apa, tidak punya asumsi yang dibekali gejala. Seulhye cuma punya intuisi dan kepedulian. Ia rasa saat ini ia harus mengedepankan keduanya.

Ia menggeleng. Mudah, jawabannya tidak. "Aku terbangun dan kamu sudah tidak ada," maka kucari. Kalau memang semuanya baik-baik saja, maka Seulhye tidak perlu melakukan hal lain selain mensyukuri. "Kalau begitu, kamu bisa kembali tidur." Woong memang terpejam lebih dulu daripadanya, tetapi masih terlalu lama untuk menunggu sampai pagi. Meski demikian, gadis itu tahu bahwa kembali tidur setelah terbangun bukan satu-satunya opsi. Ia mengambil satu langkah maju, lantas kemudian berjongkok persis di depan Woong yang terduduk di kursi. Satu telapak tangannya yang bebas menepuk bagian lutut pemuda itu satu kali. Kepalanya sedikit ditengadahkan agar titik pandang mereka bertemu.

"Kamu bisa cerita padaku." Separuh tawaran, separuh meminta.

--------------------
we hope for a better tomorrow
I wonder to what extent we can love a world; gripped by fear, thrown into unrest?

x
PM
^
Jeon Woong
 Posted: Feb 7 2018, 03:22 PM
Quote
send pm // Offline
163 posts
24 years old
mahasiswa Sogang University
ID: jwoong
taken
Citizen

1630 points
Awards: 1



"Aku terbangun dan kamu sudah tidak ada,"

Begitu, kah?

“Maaf.”

Pada akhirnya, satu kata yang sedari tadi tertahan berhasil diucapkan meski terdengar ragu. Woong merasa tidak perlu meminta maaf, sebetulnya, tetapi terbangun di tengah malam seperti ini bukanlah hal yang menyenangkan. Seandainya saja, dia tidak terbangun dan memutuskan untuk pergi ke dapur untuk mengambil air, Seulhye tidak akan repot-repot untuk mencarinya. “Padahal kamu bisa kembali tidur.” Dia juga seharusnya bisa begitu, kembali tidur, dan menganggap bayangan yang sempat muncul di dalam mimpinya sebagai hal yang tidak perlu dipikirkan terlalu jauh. Hanya saja, terlalu sulit untuk memejamkan mata, dan kembali mengistirahatkan dirinya sendiri. Seperti yang sudah dikatakan tadi, mungkin saja segelas air bisa membuat segalanya menjadi lebih baik.

Sayangnya tidak semudah itu.

Woong masih mengikuti sosok Seulhye yang datang mendekat, dan kini merendahkan tubuh di dekatnya. Ekor matanya selalu mengikuti, dan kini dengan sisa tenaga yang ada, dia coba untuk mengangkat bahu sekenannya ketika tepukan di lutut membuat lonjakan kecil di dalam dada. “Apa yang bisa aku ceritakan kepadamu?” Pertanyaan gadis itu sebetulnya sederhana, tetapi yang terjadi adalah dia tidak bisa menjawab apapun bahkan dengan jawaban paling senderhana. Hanya pertanyaan yang dilempar balik, tidak ada korelasinya sama sekali. Bahkan sekarang Woong sedang ingin menertawai dirnya sendiri.

“Dan tidak mudah untuk kembali tidur. Aku rasa… aku akan di sini dulu lebih lama?” Woong tidak sedang ingin berbohong, dan di sisi lain dia hanya tidak bisa menjawab dengan benar. Pandangan matanya dialihkan, tidak lagi mencari mata, tetapi tertuju kepada bahu gadis itu. Pemuda ini tidak memikirkan lebih jauh jika nantinya Seulhye menyadarinya atau tidak, karena dia coba mencari-cari distraksi. Gelas ditangan yang masih digenggam kini dimainkan, ke kiri, kemudian ke kanan, selama beberapa kali.

“Kamu tidur lebih larut daripada aku, jadi tidurlah lagi.”

Coba mengalihkan pembicaraan tanpa alasan yang jelas bukanlah sebuah alasan yang bijak. Gelasnya kini tidak lagi menjadi distraksi, dan ketika Woong memutuskan untuk kembali menatap Seulhye, rasa-rasanya dia harus mengatakan sesuatu, “nanti bangunlah pagi-pagi, temani aku pergi?”

Itu saja yang ingin diminta?



--------------------
Eternal questions, always asking, feeling distressed
So come on and let me know
PM
^
Seo Seulhye
 Posted: Feb 8 2018, 04:00 PM
Quote
send pm // Offline
135 posts
23 years old
college student, florist
ID: julietseo
taken
Citizen

1390 points
Awards: 3



"“Padahal kamu bisa kembali tidur.”

"Tanpa memastikan kamu baik-baik saja?" Ia mendengus pelan. "Ayolah, kamu kenal aku lebih baik daripada itu." Napasnya dihela dalam, mungkin Woong dapat mendengarnya dengan begitu mudah di antara senyap yang merajai ruangan. Sesuatu yang terjadi di luar kebiasaan akan menimbulkan pertanyaan, orang yang tidak memahami pola perilaku pun mungkin memahami bagaimana prinsip itu berjalan. Dilihatnya wajah Woong dari tempatnya sekarang, dengan kepala yang ditengadahkan, didapatinya bahwa ada yang hilang dari wajah itu. Mungkin nalar. Jeon Woong yang ditatap Seulhye saat itu adalah Jeon Woong yang dipenuhi perasaan alih-alih nalar. Bertanya-tanya, gadis itu, tanpa mempertanyakan.

"Lagipula," ia menjeda dengan mengubah posisinya menjadi duduk di atas lantai kayu. Bersila. "Aku tidak bisa kembali tidur. Dan aku terbangun bukan karena kamu bangun duluan, jadi maafmu tidak kuterima."

Hal baik dari apa yang menimpanya beberapa menit lalu ialah bahwa itu semua bukan mimpi. Seulhye tidak mengalami mimpi buruk sampai ia harus terbangun—ia kesulitan bernapas dalam tidurnya sehingga ia terjaga. Sedikit lebih mudah mengatur diri setelahnya, sebab ia tidak dihantui bayang-bayang menyeramkan dari sesuatu yang tidak nyata di dalam kepala. Lagi, sudah dikatakan, ini bukan yang pertama untuknya. Kesulitan dalam tidur nyenyak sudah menjadi santapan sehari-hari alih-alih sebuah masalah, dan karena itu semua mungkin saat ini ia baik-baik saja. Setidaknya saat ini yang terpikirkan olehnya hanyalah sesuatu yang menimpa Woong, sebuah pertanyaan yang belum ia ketahui jawabannya.

"Tahu sesuatu?" Pertanyaan retorik itu dilayangkan tepat setelah Woong kembali memintanya kembali tidur. "I don't sleep." Tidak secara literal, tetapi mungkin konklusif. Woong akan mudah menyadarinya jika pemuda itu teliti mengamati betapa sulitnya Seulhye tidur lebih awal di malam hari dan terbangun begitu pagi, dan bagaimana gadis itu selalu terbangun di tengah tidurnya hanya untuk pergi ke toilet dan membasuh wajahnya dengan air. Itu adalah konsekuensi yang didapatnya dari usaha melepaskan diri dari konsumsi obat tidur, dan sesungguhnya, Seulhye baik-baik saja akan itu.

Asalkan ia tidak sendirian—asalkan Woong tinggal.

Sekarang, tiba gilirannya mengambil peran untuk menemani dan tinggal. Pertama-tama, gadis itu mengangguk soal permintaan Woong soal kesediannya di pagi hari untuk menemaninya pergi. "Tentu. Ke mana pun." Temaram cahaya tidak melunturkan ekspresi wajah Woong barang setitik pun, dan pantulan raut melankolik yang membayang di matanya membuat Seulhye tahu keputusannya tinggal di sini adalah keputusan yang benar. "Wajahmu pucat," seperti orang sakit, tetapi Seulhye agaknya tahu bukan itu yang tersembunyi di balik raut wajah di hadapannya. "Aku tidak akan memaksamu bercerita padaku, tapi akan kutemani di sini sampai kamu merasa lebih baik."

--------------------
we hope for a better tomorrow
I wonder to what extent we can love a world; gripped by fear, thrown into unrest?

x
PM
^
Jeon Woong
 Posted: Feb 24 2018, 01:15 PM
Quote
send pm // Offline
163 posts
24 years old
mahasiswa Sogang University
ID: jwoong
taken
Citizen

1630 points
Awards: 1



"Tanpa memastikan kamu baik-baik saja?"

Pada bagian ini Woong tidak menanggapi, dia hanya diam dan memikirkan lebih jauh apa yang dikatakan oleh gadis itu. Apa yang harus dipastikan, karena Woong merasa dia baik-baik saja sekarang. Terbangun di tengah malam memang bukan hal yang wajar, tetapi hal semacam ini terjadi pada semua orang, dan dia bukanlah salah satunya. Seo Seulhye sendiri barangkali terbiasa dengan hal ini, terbangun di tengah malam dan hanya tidur sebentar, tetapi Woong tidak pernah tega untuk membiarkan gadis itu memelihara sebuah kebiasaan buruk. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, termasuk bayang-bayang yang muncul sekarang—yang merupakan hasil dari mimpinya tadi—sama sekali tidak mempunyai makna khusus. Semua orang yang pernah kehilangan juga merasakan hal yang sama.

Karena dia baik-baik saja, sehingga Woong tidak perlu memikirkan lebih jauh, begitupula dengan Seulhye. Benar?

Dengan begitu Woong juga tidak memikirkan kembali alasannya sulit kembali tidur. Akan tetapi, suara halus gadis itu seakan-akan meyakinkan dirinya, bahwa mungkin memang ada sesuatu, dia tidak sepenuhnya bisa dibilang baik, dan di saat yang sama, Woong menyanggah kalimat-kalimat Seulhye dalam diam. Hanya tatapan matanya yang perlahan mulai terarah ke wajah gadis itu, memperhatikan cara Seulhye membacanya lebih jauh. Rasanya lucu jika dia berpura-pura tidak memahami berapa lama mereka saling mengenal, dan waktu seharusnya sudah bisa membuat kata-kata Seulhye untuk memaksanya memperhatikan dirinya sendiri lebih jauh.

“Begitu?” Wajahnya pucat, dan satu tangannya menyentuh pipinya sendiri. Telapak tangannya dingin, begitu pula dengan sebagian wajahnya. Hanya satu kalimat ini yang dibenarkan oleh Woong, sementara dia masih ingin menyanggah kata-kata Seulhye tadi. “Aku baik-baik saja, Seulhye-ya... kenapa kamu tidak percaya padaku.” Pemuda ini tertawa, meski terdengar gugup, karena Woong selalu mersa tawanya selalu berhasil pada beberapa kesempatan, entah dengan ini, karena pada akhirnya dia lelah untuk terus-terusan diam.

“Aku hanya bermimpi sedikit...” Bahunya terangkat, dan kepalanya mengangguk kecil, di dalam heningnya malam, pikirannya masih riuh dengan potongan-potongan kejadian yang terus datang dan pergi. “Tentang ibuku.” Kalimat tadi dilanjutkan dengan suara yang lebih lirih karena rasanya berat untuk mengatakannya secara langsung. Ibu, adalah kata yang akan membuat bahunya kaku, dan membuat perasaannya sedikit berat. “Dan ketika aku melihat tanggal, hari ini adalah hari ulang tahunnya.” Tiga Februari, pada akhir musim dingin.

“Hanya itu saja. Aku tidak bisa kembali tidur... karena memang aku tidak bisa tidur.”

Kesimpulan sepihak yang tersirat dari kalimatnya baru saja: dia ini baik-baik saja, dan kamu, Seo Seulhye, bisa kembali lagi mengistirahatkan diri, waktumu terlalu berharga untuk memikirkannya sekarang.



--------------------
Eternal questions, always asking, feeling distressed
So come on and let me know
PM
^
Seo Seulhye
 Posted: Feb 25 2018, 11:08 AM
Quote
send pm // Offline
135 posts
23 years old
college student, florist
ID: julietseo
taken
Citizen

1390 points
Awards: 3



Keras kepala. Mereka berdua. Seulhye tahu semua yang ada di kepalanya hanya berbentuk asumsi, tetapi ia dapat merasakan bagaimana ia kini seperti tengah merangsek masuk ke dalam sesuatu—entah apa—yang Woong sedang berusaha tutupi. Atau mungkin belum pemuda itu ketahui benar. Tidak masalah sebanyak dan sefrekuentif apa seseorang terbangun di tengah tidur, poinnya adalah mengapa mereka bisa terbangun. Seo Seulhye familier dengan situasi ini dan ia tidak akan lagi mengelak satu fakta, bahwa ia sering terjaga tengah malam dan terlelap di waktu yang sebentar karena tidurnya selalu terganggu oleh hal-hal yang tidak bisa ia taklukkan—bahkan ketika itu bukan hal yang spesial; ia hanya merasa tidak nyaman dan terbangun. Tanpa mimpi. Tanpa teror.

Tetapi sesuatu sudah terjadi. Tidak mungkin tidak.

Mengapa gadis itu tidak percaya akan ucapan Woong? "Akan terdengar mengerikan kalau kukatakan raut wajahmu kontras dengan jawabanmu?" Ia lantas menahan napasnya sebentar, kemudian berdiri dari posisi duduknya semula untuk kembali mengisi gelas kosongnya dengan air. Meneguknya perlahan, lalu mengembuskan napas perlahan seolah-olah ia baru saja melepas dahaga di siang hari musim panas. Seulhye kembali mengisi gelasnya, sekali lagi, suara air mengalir memecah sunyi untuk beberapa saat. Ia dan Woong saling memunggungi sekarang, seharusnya, jika pemuda itu masih berada di tempatnya dan tidak beranjak. "Tapi tentu saja kuharap kamu betul baik-baik saja, karena memang itu yang paling penting."

Bunyi air yang menghantam dasar gelas berhenti, digantikan dengan langkah gadis yang terdengar lamban memutari dapur dan melewati Woong perlahan. Kedua irisnya sempat menangkap mata Woong sebelum ia berlalu, mengempaskan diri perlahan di sofa sambil kembali meneguk air dari dalam gelasnya. Kemudian di sanalah, “Aku hanya bermimpi sedikit...” tentang ibunya. Di hari ulang tahun beliau. Tanggal tiga. Gadis itu menahan diri untuk sejenak berpikir sebelum kemudian menolehkan kepala ke belakang, mencari presensi Woong yang samar oleh temaram cahaya. Pada mula, gadis itu hendak menyatakan sesuatu—hal sederhana, mungkin untuk menegaskan pada Woong bahwa pemuda itu bisa bercerita tentang segalanya, dari awal sampai akhir, detil demi detil; atau mungkin juga untuk mengatakan bahwa tidak apa-apa jika Woong ingin berhenti. Akan tetapi tidak ada—tidak satu patah kata pun terucap dari celah bibir gadis itu.

Terkecuali, "kemarilah," gadis itu meminta. Satu tangannya diulurkan meski tubuhnya tidak berpindah barang seinci pun.

--------------------
we hope for a better tomorrow
I wonder to what extent we can love a world; gripped by fear, thrown into unrest?

x
PM
^
Jeon Woong
 Posted: Feb 25 2018, 08:12 PM
Quote
send pm // Offline
163 posts
24 years old
mahasiswa Sogang University
ID: jwoong
taken
Citizen

1630 points
Awards: 1



Mungkin pada dasarnya dia memang tidak bisa berbohong dengan mudah.

Ekspresi wajah dan jawabannya bukanlah satu kesatuan. Woong meneguk ludah, dan menahan napas kemudian. Rasanya dia tidak pernah diposisikan seperti ini. Ketika ada seseorang yang bisa membaca gerak-geriknya yang tidak biasa, sampai setiap kerlingan matanya yang mulai terlihat berbeda. Barangkali yang terjadi di antara dia dan Seo Seulhye bukan hanya tentang beberapa bulan yang dihabiskan bersama, tetapi tentang bagaimana mereka memperhatikan satu sama lain. Sunyi yang muncul di antara mereka berdua pun diartikan sebagai sesuatu yang kelewat janggal, terasa tebal, sesekali mencekik, tetapi kesalahan bukan ada pada gadis itu.

Diamnya tidak berlanjut, meski jauh di dalam hatinya Woong ingin menambahkan beberapa kalimat. Setelah dia bermimpi tentang ibunya, dia bermaksud mengurai sedikit demi sedikit masalah yang membuat dua telapak tangannya terasa dingin dan lembab. Akan tetapi, bercerita tidaklah mudah jika dia tidak pernah merasa tenang. Hanya satu tangannya di atas meja yang kemudian menopang dagu, dan dia simak setiap gerak-gerik yang kemudian dilakukan Seulhye.

"Kemarilah,"

Pemuda ini berkedip beberapa kali, menghela napas pendek, dan pada akhirnya berdiri. Dia dengar suara Seulhye dari ruangan lain, dan tidak sulit untuk menemukan gadis itu sedang duduk di atas sofa. Tidak lama dia menempatkan dirinya di sebelah Seulhye, meluruskan punggung, dan tanpa disadari, kepalanya bersandar pada bahu gadis itu.

Suara tetesan air dari wastafel dapur yang masih terngiang dibenaknya, begitu pula dengan jarum panjang jam dinding beberapa saat yang lalu. Segala hal baik kejadian dulu, maupun yang belum lama terjadi kembali terasa familiar meski dia tidak bisa menjabarkan dengan baik dari detil yang dirasakannya sekarang. “Aku baik-baik saja, Seulhye-ya. Aku baik-baik saja.” Pada akhirnya dia bicara lagi. Gumamnya pelan terdengar parau, dan daripada memberitahu yang dikatakannya baru saja lebih mirip seperti harapannya sendiri.

“Kamu bisa kembali tidur, tidak usah mengkhawatirkan seseorang sepertiku.”

Satu hal yang tidak pernah Jeon Woong sadari adalah, yang dikatakannya baru saja bukanlah sebuah penolakan kepada gadis itu, tetapi kepada dirinya sendiri. Semakin Seulhye peduli, semakin dia merasa bersalah bahwa dirinya memang tidak sedang baik-baik saja.

“Aku hanya bermimpi sedikit tentang ibuku.” Napasnya tertahan beberapa saat, masih coba merepetisi satu hal yang kini semakin membuat perasaannya semakin berat. “Dan aku tidak apa-apa.”

Dan, satu hal lagi yang Woong tidak akan pernah tahu, dan tidak akan pernah disadari adalah, tubuhnya lebih bisa mengekspresikan segalanya dengan mudah. Setitik air matanya mengalir setelah berada di pelupuk untuk beberapa saat, tetapi ini semua terasa konyol. Tahu kenapa? Mungkin karena di dalam pikirannya sendiri dia merasa semuanya masih baik, masih dalam kendalinya.


--------------------
Eternal questions, always asking, feeling distressed
So come on and let me know
PM
^
Seo Seulhye
 Posted: Feb 25 2018, 08:51 PM
Quote
send pm // Offline
135 posts
23 years old
college student, florist
ID: julietseo
taken
Citizen

1390 points
Awards: 3



Tidak ada yang menilai Woong tengah berbohong. Jika pun ada, Seulhye bersumpah, bukan ia.

Gadis itu hanya meraba dari apa yang sampai lewat panca indera. Ia tidak bisa membaca isi hati dan pikiran. Akan tetapi, mudah baginya melihat sesuatu yang janggal ketika pola yang biasa dimunculkan lelaki itu secara tiba-tiba berubah dan berbeda. Apa yang sampai ke telinganya lewat udara tidak bernilai sama dengan yang ditatapnya sepuluh sentimeter di depan. Seulhye tidak tahu apa itu—tidak sampai Woong sendiri yang angkat bicara. Seharusnya gadis itu bisa dengan sederhana menanggapi; mencoba menenangkan atau setidak-tidaknya menekankan bahwa Woong sedang dan akan baik-baik saja.

Realita mereka menjungkirbalikkan kebiasaan dan nalar, Seulhye berakhir diam dengan mulut bak terkunci rapat. Sampai ketika pemuda itu menghampirinya dan mengisi spasi di sampingnya, mengistirahatkan kepala di bahu yang memang ingin ia bagikan, Seulhye masih tidak mampu mengucapkan apa pun. Hanya satu lengannya yang entah sejak kapan melingkari bahu pemuda itu, telapak tangan dan jemari mengusap helai-helai rambut dengan kecepatan begitu lamban. Ada alasan yang terangkai begitu sempurna mengapa gadis itu tidak mampu berbicara, barangkali ikut tenggelam bersama segala gerak-gerik dan ekspresi yang ditunjukkan Woong detik itu juga: mungkin mereka berada di pijakan yang sama. Tempat yang sama. Posisi familier yang serupa.

Gadis itu punya satu tahun—Jeon Woong punya tujuh. Peringatan yang selamanya akan terngiang dalam kepala sekali pun perasaan menolak kedatangannya. Seulhye dan musim panasnya, Woong dan musim dinginnya. Ditinggalkan. Kasus Woong, oleh ibunya. Seulhye selamanya tidak akan pernah benar-benar memahami perasaan pemuda itu, bahkan ketika ia bercerita—tetapi cukup sederhana merangkaikan potongan ingatan satu demi satu soal bagaimana selama ini Woong selalu menceritakan hal-hal mengenai ibunya. Sinar mata, rangkaian kata, ucapan sederhana yang setara dengan membagikan seisi dunia.

“Aku baik-baik saja, Seulhye-ya. Aku baik-baik saja.”

Ia tidak bisa semudah itu menyatakan bahwa segalanya akan baik-baik saja, baik sekarang atau keesokan hari, bahkan sekalipun ketika Woong yang mengucapkannya terlebih dulu. ”Ara,” cuma itu. Hanya itu yang bisa keluar dari pangkal kerongkongannya pertama kali, meski sebenarnya mungkin dirinya berkata lain. Mungkin ia hanya mengiyakan karena tidak tahu harus melakukan apalagi, selain tetap tinggal dan tidak bergerak dari tempatnya. Telapaknya masih bergerak-gerak mengikuti usapan, ritmis, tetapi barangkali Woong dapat merasakan bagaimana Seulhye tengah ragu akan segala yang ia lakukan saat itu juga. Ia hanya memimpikan ibunya, dan ia tidak apa-apa, Seulhye menganggukkan kepala tanda mengerti.

“Kalian berbicara?” Tanya yang muncul terdengar serak meski tenggorokan gadis tidaklah kering. Telapaknya bergerak ke arah wajah pemuda itu secara intuitif dan disadarinya wajah Woong telah basah. “Woong-ah…,” sekarang, barulah biji matanya diarahkan lurus-lurus pada wajah si pemuda seiring telunjuknya menyapu bagian kelopaknya yang basah. “Tidak apa-apa. Tidak apa-apa jika ingin bicara, tidak apa-apa jika ingin berhenti. Aku tidak memaksa. Kalau kamu benar ingin aku pergi… aku akan pergi.” Satu dari banyaknya hari yang sudah dilalui dengan banyaknya cerita, baru kali ini Seo Seulhye mendapati Jeon Woong begitu rapuh.





--------------------
we hope for a better tomorrow
I wonder to what extent we can love a world; gripped by fear, thrown into unrest?

x
PM
^
Jeon Woong
 Posted: Feb 25 2018, 09:33 PM
Quote
send pm // Offline
163 posts
24 years old
mahasiswa Sogang University
ID: jwoong
taken
Citizen

1630 points
Awards: 1



“Adikmu itu butuh dihibur, jika kamu menangis, siapa lagi yang bisa menghiburnya?” Ingatan itu tidak akan pernah bisa dikategorikan sebagai sebuah memori khusus. Saat itu umurnya tujuh belas, dan ketika pelupuk matanya mulai basah, ayahnya mulai memberikan tatapan marah, kesal, tetapi juga sedih yang bercampur menjadi satu, sembari memegangi dua pundaknya kuat-kuat. Segala hal yang bisa dieskpresikan melalui indra lainnya tertumpuk di pantulan mata ayahnya, dan Jeon Woong bersumpah dia tidak akan pernah melupakan apa yang dikatakan ayahnya pada hari itu.

Intinya seperti ini, kamu adalah anak laki-laki, dan anak laki-laki tidak pernah menangis. Beruntung Woong adalah anak yang bisa berpikir cepat, dan tanpa ayahnya memberitahukan secara gamblang, Woong langsung mengerti maknanya. Sapu tangannya pada hari itu hampir tidak digunakan, karena setelah menyeka air mata yang sudah terlanjur mengalir dengan ujung lengan kemejanya, Woong menegakkan kepalanya tinggi-tinggi. Tidak apa-apa, katanya dalam benak, yang berubah hanyalah sebuah kebiasaan kecil yang bisa segara disesuaikan. Adiknya akan tetap ada, begitu pula ayahnya, semua akan baik-baik saja, pun jika memang tidak demikian, tidak ada yang bisa dilakukan selain membiarkan semuanya berlalu.

Dan setelah tujuh tahun berlalu, baru kali ini Woong menyadari, barangkali pemikirkan semacam itu salah, dan kini dia merasa malu. Coba ingat kembali, pada suatu hari, tepat pada satu tahun yang lalu, gadis ini pernah bertanya, bagaimana dia melalui semuanya, dan Woong hanya bisa menjawab, dia tidak tahu, semua terjadi begitu saja. Memori ditutup dengan memori, tetapi tidak akan pernah menjamin yang telah disimpan akan muncul kembali. Melabeli bahwa dirinya baik-baik saja sama sekali tidak menjelaskan keadaannya saat ini, tetapi itu hanyalah sebuah harapan-harapan kosong.

Pertanyaan gadis itu baru saja juga tidak bisa dijawab. Tidak jangan pergi, tetapi tentu saja Woong tidak akan pernah bisa mengatakannya dengan mudah. Wajahnya tertunduk dalam-dalam, dan tanpa banyak bicara hanya kedua tangannya yang terulur, mencari pegangan, dan wajahnya yang dibenamkan kembali pada bahu gadis itu kemudian. Isaknya mungkin tidak akan pernah terdengar jelas, tetapi bagi pemuda ini segalanya terlampau riuh di dalam benak. Dia tidak boleh menangis, Woong tidak boleh menangis, karena seharusnya... seharusnya, dia dalam keadaan baik—

“—aku rindu dengan ibuku,” pada akhirnya dia berujar dengan suara bergetar. “Sangat, sangat, rindu, tapi semuanya sudah terlambat.”

Kenapa harus menangis? Mungkin karena pada dasarnya dia memang selemah itu, tetapi Woong tidak akan pernah mengakui karena dia adalah laki-laki. Tujuh tahun bukanlah waktu yang sedikit, tetapi baginya tujuh tahun belum bisa membuatnya lupa, dan pada tujuh tahun pula dia baru menyesali, kenapa air matanya datang begitu terlambat.



This post has been edited by Jeon Woong: Feb 25 2018, 09:37 PM

--------------------
Eternal questions, always asking, feeling distressed
So come on and let me know
PM
^
1 User(s) are reading this topic (1 Guests and 0 Anonymous Users)
0 Members:

Topic Options
Pages: (2) 1 2 
Closed
New Topic
New Poll


 


 

Affiliates [ View All | Link-us | Apply ]
Toshi Haku Battle Royale RPG Forum Sekolah Sihir Hogwarts Smiley Academy (SA) SAD (Shinobi Another Dimension) Indo Eyeshield 21 Bauklötze - Shingeki no Kyojin RPF Tales of Middle Earth The Black Clover Vampire Knight:re Legend of Terra Yuugen Vault 546 SoulMatch RPF 
 


skinned exclusively by ree of shine. cfs by black. modified by neng. do not reproduce.