Latest Shouts In The Shoutbox -- View The Shoutbox · Rules Collapse  


 
Add Reply
New Topic
New Poll

 If Happy Ever After Did Exist
Shin Yoomi
 Posted: Aug 9 2017, 02:17 PM
Quote
send pm // Offline
117 posts
27 years old
Internal Auditor
ID: shinyoo90
not telling
Citizen

1170 points
Awards: 1



Disclaimer:
2387 words. Shin Yoomi adalah karakter milik saya sementara karakter lain yang disebutkan di sini adalah milik PM masing-masing. Gerakan karakter lain yang disebutkan di sini telah seizin dari PM karakter yang bersangkutan. Credit judul, Maroon5

Prompt:
Holding a wish on the palm of my hands



"If happy ever after did exist—"




2017년 07월 27일

“Astaga.” Hwang Bona yang saat itu akan masuk ke kamar mandi dikagetkan dengan kemunculan Jaeho yang tiba-tiba saja sudah berada di dalam apartemen. Wanita itu sengaja bangun pagi untuk memasak dan menyembunyikan kado untuk Yoomi di dalam kamar mandi. Sementara Jaeho, datang hanya untuk memberikan sebuah kejutan meskipun terlihat dari raut wajahnya kalau dia lelah karena baru saja pulang dari rumah sakit.

“Eh...hai,” Sapanya canggung. “Yoomi, ada kan?” sungguh tidak pandai untuk berbasa-basi. Sementara Bona sudah cukup panik karena takut kalau Jaeho akan membocorkan apa yang akan dilakukan wanita itu pada Yoomi.

Oppa tidak boleh masuk ke kamar mandi!” Bukannya menjawab pertanyaan, wanita itu justru memberi ultimatum. Pandangannya beralih pada sebuah botol air mineral yang sudah kosong di atas meja. Tanpa mengatakan apapun, Bona mengambil botol itu dan memberikannya pada Jaeho. Sementara Jaeho hanya bisa memandang Bona penuh tanda tanya. Terlepas dari kebingungannya, Jaeho tetap saja menerima botol pemberian Bona dan wanita itu pun langsung masuk ke dalam kamar mandi meninggalkan Jaeho yang masih kebingungan.

Waktu masih menunjukkan pukul lima pagi—masih terlalu pagi bagi Shin Yoomi untuk membuka matanya. Maklum saja wanita itu baru bisa memejamkan mata sekitar dua jam lalu. Pikirannya melayang-layang entah ke mana. Membuat matanya jadi enggan untuk dipejamkan (meski sudah berusaha untuk tidur sejak pukul sebelas malam). Jika sudah begini, biasanya Yoomi memutuskan untuk meminum obat tidurnya. Tapi tidak ia lakukan karena ingin menghilangkan kebiasan buruknya yang satu itu. Bahkan semua obtanya sengaja ia simpan di dalam laci agar tidak tergoda untuk menyentuh.

Matanya sedikit terbuka dan samar-samar mendengar suara berisik dari luar. Tapi terlalu mengantuk untuk memastikan apa yang sedang terjadi di sana. Mungkin saja Bona sedang memasak, pikirnya atau sedang melakukan sesuatu dengan anjingnya. Dan memang mereka harus bangun sepagi ini jika ingin memasak sarapan dan tidak ingin terlambat ke kantor.

Selimutnya ia naikkan. Kali ini sampai menutup separuh wajahnya. Tunggu satu jam lagi baru Yoomi akan benar-benar bangun. Baru saja mengubah posisi agar merasa lebih nyaman, ia mendengar suara pintu kamarnya yang dibuka. “Ng ... satu jam lagi ya, Bona” Suaranya masih serak namun tidak ada jawaban apa-apa hingga terdengar suara pintu kamarnya kembali ditutup. Sepertinya Bona sudah mendengar permintaannya.

Dahinya berkerut—berusaha membuka matanya yang terasa begitu lengket. Samar-samar Yoomi melihat seseorang sedang berdiri di samping tempat tidurnya kemudian meletakkan sesuatu di atas meja. Tidak berselang lama, tubuhnya tiba-tiba dipeluk. Tentu saja bukan Bona. Matanya masih terpejam tapi dari aroma tubuhnya, Yoomi tahu siapa yang datang. “Oppa...

”Saengilchukkahae.” Bisik sang pria.

Wanita Shin itu langsung saja beringsut ke dalam pelukan Jaeho. Tidak berusaha untuk membuka matanya dan hanya merespons ucapan selamat dari Jaeho dengan kekehan kecil. Tubuhnya terlalu lelah untuk memberikan reaksi lebih dari itu. Pun Jaeho sepertinya juga masih lelah. Semalam sang pria mengatakan kalau masih harus bertugas di rumah sakit jadi sepertinya Jaeho baru saja pulang.

Oppa bau.” Alih-alih menjauhkan diri, Yoomi malah mempererat pelukannya pada Jaeho dan menghirup dalam-dalam aroma tubuh sang pria. Tentunya yang ia katakan tadi bukanlah hal yang sesungguhnya.

“Kalau bau nggak usah peluk.” Balas Jaeho.

Sementara Yoomi masih memejamkan matanya—tersenyum dan semakin merapatkan tubuhnya pada sang pria. “Hm...nggak mau. Maunya peluk.” Gumamnya dengan mata terpejam. Tangannya menarik salah satu tangan milik Jaeho untuk diletakkan di kepalanya. Seakan memberi perintah untuk mengusap-usap kepalanya. Semakin menyamankan diri untuk tidur dalam pelukan sang pria. Kalau sudah seperti ini, mungkin tambahan waktu satu jam tidak akan cukup bagi Yoomi. Wanita itu bisa berakhir tidur sepanjang hari.

Benar saja, rasanya seperti baru memejamkan mata, Yoomi merasakan ponselnya bergetar—tanda alarmnya sudah menyala. Tangannya meraba-raba tempat tidur—mencari ponselnya. Berusaha keras untuk membuka mata ketika ponselnya sudah berhasil ditemukan. Sempat mengerjapkan mata beberapa kali sebelum akhirnya bisa membuka matanya. Tepat pukul enam pagi. Wanita itu mengerang karena masih tidak ingin bangun. Ponselnya kembali diletakkan di sembarang tempat. Fokusnya kini kembali pada sosok yang ada di samping. Pria itu masih memejamkan mata meskipun Yoomi tahu bahwa Jaeho sudah bangun karena getar alarm dari ponsel milik Yoomi tadi.

Oppa—” Salah satu kakinya kini sudah berada di atas tubuh sang pria. Badannya mulai bergeser hingga akhirnya bisa benar-benar berada di atas Jaeho. Kedua tangganya digunakan untuk bertumpu di atas dada sang pria sementara maniknya masih fokus memandangi wajah Jaeho. Selama apapun sepertinya tidak akan bosan. “—Bogoshipeo

Pinggangnya merasakan pelukan erat. Benar, kan kalau Jaeho sudah bangun meski matanya tetap saja terpejam. Yoomi tidak bisa berhenti tersenyum. Senang sekali rasanya melihat Jaeho yang menyempatkan datang sepagi ini hanya untuk mengatakan selamat ulang tahun. Padahal Yoomi tidak meminta hal seperti ini. Lagipula ia maklum kalau Jaeho tidak memberikan apa-apa karena sibuk di rumah sakit.

Kepalanya menoleh ke arah meja. Melihat sebuah termos yang entah apa isinya. “Oppa bawa apa?” Pandangannya kembali beralih pada Jaeho.

Miyeokguk” Jawaban singkat dari Jaeho membuat Yoomi mengernyitkan dahinya. Setelah sibuk semalaman di rumah sakit lalu harus repot-repot datang ke tempat Yoomi hanya untuk membawakan miyeokguk. Senyuman di bibirnya jadi semakin lebar.

“Siapa yang bikin?” Tentu saja selain merasa senang, hal ini adalah yang pertama kali terlintas di kepalanya. Jaeho sangat sibuk jadi tidak mungkin sempat memasak. Fakta kedua, Jaeho tidak bisa memasak.

“Percaya nggak kalau aku yang bikin?” Kekehan yang lolos dari mulut Jaeho membuat Yoomi semakin meragukan jawaban yang diberikan oleh Jaeho barusan.

Dahinya berkerut—memberikan tatapan tidak percaya pada Jaeho. “Nggak mungkin.” Mana mungkin Jaeho memiliki waktu untuk melakukan semua itu.

“Ibu.” Jaeho mengeratkan pelukannya pada pinggang Yoomi.

Sementara Yoomi hanya bisa terdiam mendengar jawaban singkat dari Jaeho. Sejak pertama kali menjalin hubungan baik dulu saat masih kuliah maupun sekarang, mereka berdua tidak pernah memperkenalkan satu sama lain pada keluarga masing-masing. Pun saat memutuskan untuk kembali menjalin hubungan setelah putus, rasanya Jaeho tidak pernah mengatakan pada Yoomi kalau ibunya tahu mengenai ini.

“Memangnya oppa bilang apa? Kenapa mendadak dibuatkan miyeokguk?” Yoomi tahu betul bagaimana Jaeho itu. Pria itu tidak akan mengatakan apa-apa pada ibunya mengenai hal seperti ini. Karena mereka berdua sesungguhnya memiliki kesamaan—tidak akan membawa masalah ini pada keluarga sebelum keduanya punya rencana pasti di masa depan. Kalau bukan karena Bona yang mengadu, Ibunya tidak akan pernah tahu kalau Yoomi sudah punya kekasih sekarang.

“Kalau aku yang minta pasti langsung dibuatkan.”

Shin Yoomi memutar kedua bola matanya. Rasa-rasanya semakin hari, tingkat kepercayaan diri Jaeho semakin meningkat. Tapi yang barusan dikatakan itu mungkin saja terjadi karena pada kenyataannya pun ibu sang pria memang terlihat layaknya seorang ibu yang begitu memanjakan putranya. Sungguh kontras dengan ibunya sendiri yang seakan tidak peduli dengan nasib putri satu-satunya dan lebih menyukai pekerjaannya.

Sungguh hal-hal kecil seperti ini membuatnya menjadi sangat emosional. Yoomi mencerukkan wajahnya pada leher sang pria. Berusaha menutupi kalau sebenarnya ia ingin sekali menangis. Tapi untuk apa. Lagipula sejauh ini Yoomi baik-baik saja. Ia hidup dengan baik meski tanpa kasih sayang ayah dan ibunya.

Salah satu tangan Yoomi kemudian meraba pergelangan tangan Jaeho—memastikan sebelah mana yang mengenakan jam tangan. Setelah menemukan yang ia cari, langsung saja tangan sang pria ditarik. Hanya ingin memastikan sudah pukul berapa sekarang. Yoomi tetap harus bersiap-siap untuk pergi ke kantor jika tidak ingin terlambat dan mendapat makian dari atasannya. Tapi tubuhnya begitu malas untuk beranjak.

Membuang napas berat. “Mau bolos, nggak pengen kerja.” Menggeliat untuk menyamankan tubuhnya. Satu tangan diajdikan tumpuan di atas tubuh sang pria. Sementara yang satu lagi bergerak bebas membelai wajah prianya. Jaeho pun sepertinya semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang Yoomi.

“Yasudah nggak usah masuk kerja. Sama aku aja di sini.” Lelaki itu tersenyum jahil.

Call. Oppa nggak usah ke rumah sakit dong sesekali.” Ucapannya yang ini tentu saja tidak serius. Biar bagaimanapun, Yoomi tahu kalau permintaannya yang barusan itu mustahil untuk diwujudkan. Tapi entah mengapa tetap saja ia ucapkan.

“Nanti aku dipecat.” Kekehan sang pria membuat Yoomi mendengus.

“Memangnya cuma oppa yang bisa dipecat?” Bibirnya langsung cemberut. Selalu saja begitu. Untuk urusan meluangkan waktu, Yoomi memang lebih banyak berkorban. Tentu saja ini konsekuensi yang harus diterima karena ia sendiri yang memohon agar bisa kembali lagi bersama Jaeho. “Terus buat apa aku bolos kalau nanti oppa pergi lagi.”

Protes yang dilontarkan Yoomi membuat wanita itu mendapat beberapa kecupan di wajah.

gwiyeowo.” Sebuah senyum kecil tersemat di wajah Jaeho.

“Apaan sih—” Belum selesai wanita itu mengucapkan kata-katanya, tubuhnya sudah digulingkan ke samping. Saat ini posisi mereka jadi berubah. Jaeho sekarang berada di atasnya dengan satu tangan digunakan sebagai tumpuan agar tidak benar-benar menindih Yoomi. Satu lagi tangannya yang bebas membelai surai sang wanita.

“Yasudah nggak usah bolos.” Senyuman kecil yang ditunjukkan Jaeho membuat Yoomi mencebik. Hingga kemudian sang pria mendekatkan wajahnya pada milik Yoomi—mencium lembut bibir sang wanita. Yoomi pun refleks melingkarkan kedua tangannya pada leher Jaeho.
Jaeho kemudian menarik diri. Merebahkan tubuhnya di samping Yoomi. Kepalanya bersandar pada dada sang wanita dan kedua tangannya memeluk erat pinggang. “Aku boleh tidur sebentar nggak?”

“Gih. Aku mau mandi, siap-siap ke kantor dulu.” Salah satu tangan milik Yoomi hendak menyingkirkan tangan Jaeho dari pinggangnya namun, pelukan dari sang pria malah semakin erat.

“Nanti dulu. Tunggu sampai aku tidur.”

Yoomi hanya bisa terkekeh saat mendengar permintaan Jaeho barusan. “Aigu ...” tangannya menepuk-nepuk pelan punggung Jaeho. Sementara tangan yang lain membelai wajah sang pria. Dan sepertinya tidak membutuhkan waktu lama bagi Jaeho untuk terlelap.

Sebisa mungkin Yoomi tidak melakukan gerakan yang dapat membangunkan Jaeho—wanita itu bergerak perlahan untuk keluar dari selimut. Kemudian menyelimuti Jaeho hingga bagian bahu. Mengambil termos berisi miyeokguk yang dibawakan oleh Jaeho untuk diletakkan di meja makan.

Setelah keluar dari kamarnya, Bona adalah orang pertama yang dicari. Namun sepupunya itu tidak bisa ditemukan di mana-mana bahkan setelah Yoomi mencari ke kamar yang letaknya persis berada di samping kamarnya. Langkahnya kemudian membawa wanita itu ke dapur. Agak terkejut saat melihat beberapa makanan sudah tersedia di atas meja lengkap dengan sebuah catatan dengan tulisan warna-warni yang menyatakan kalau Bona sudah pergi terlebih dulu.

Cukup kecewa karena Bona bahkan tidak mengatakan apa-apa padanya dan langsung pergi begitu saja. Langkahnya untuk ke kamar mandi begitu berat. Hingga fokusnya tertuju pada sesuatu—bikini—yang tergantung di dekat pintu kamar mandi dan sepertinya ditinggalkan Bona. Karena tidak mendapatkan pesan apapun, Yoomi hanya mengambilnya dan meletakkan di dalam laci dekat washtavel—di atas tumpukan handuk.

Membutuhkan waktu cukup lama bagi Yoomi untuk bersiap-siap meskipun saat ini gerakannya terhitung lebih cepat dibandingkan saat wanita itu sedang libur. Saat ini Yoomi sudah duduk di depan meja rias. Memoleskan riasan pada wajahnya sambil sesekali melihat sosok yang sedang tertidur di belakangnya melalui pantulan cermin. Hanya sebentar karena tidak perlu banyak riasan hanya untuk berangkat ke kantor.

Wanita itu mulai beranjak dari duduknya—mengerling pada jam dinding. Masih ada waktu setidaknya tiga puluh menit untuk mereka sarapan. Kakinya melangkah menghampiri tempat tidur. Terduduk di ujung tempat tidurnya sebelum akhirnya salah satu tangan membelai lembut wajah sang pria. “Oppa ... ayo bangun.” Sebisa mungkin membangunkan Jaeho tanpa membuat pemuda itu terkejut.

“Atau mau tidur di sini saja? Nanti baru pulang ke apartemen.” Menawarkan agar Jaeho tinggal lebih lama. Tidak tega jika harus menyuruh orang yang masih mengantuk begitu untuk segera pulang. Terlebih Jaeho harus menyetir dan itu akan sangat membahayakan.

“Nggak. Kan mau anterin kamu.” Jaeho beranjak dari tidurnya. Dengan mata yang masih terpejam, laki-laki itu menggeser posisi duduknya hingga berada di tepi tempat tidur.

Yoomi mengerutkan dahinya. Sedikit khawatir karena Jaeho tetap bersikeras ingin mengantarkan Yoomi pergi. Wanita itu kini berdiri di depan sang pria. Salah satu tangannya menepuk-nepuk ujung kepala Jaeho. Membuat sang pria langsung bergerak melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Yoomi.

Beberapa menit berlalu dengan posisi yang sama. Kemudian suara Jaeho memecah keheningan di antara mereka. “Aku ke kamar mandi dulu.”

Sementara Jaeho ke kamar mandi, Yoomi langsung menuju dapur—menyiapkan dua mangkuk nasi untuk mereka makan bersama.

Menarik sebuah kursi untuk duduk. Menatap makanan di atas meja—berpikir entah sejak pukul berapa Bona menyiapkan ini semua. Tangannya menuangkan meyeokguk ke dalam mangkuk. Tidak berselang lama, Jaeho datang.

Oppa bisa makan cepat kan? Nanti aku terlambat kalau tidak cepat-cepat.” Karena aktu sudah menunjukkan pukul tujuh lewat tiga puluh menit.

Keheningan mendominasi selama keduanya makan. Sesekali Yoomi menatap Jaeho yang duduk di hadapannya dan hanya tersenyum saat Jaeho juga melihat ke arahnya. Suasana hatinya sedang sangat baik sekarang ini. Dan ini adalah kali pertama Yoomi bisa merasakan bagaimana masakan yang dibuat oleh seorang ibu. Karena ibunya tidak pernah memasak untuknya sekali pun.

Meninggalkan mangkuknya yang sudah kosong di atas meja begitu saja. Akan ada ahjumma yang datang untuk membersihkan apartemen saat ia pergi bekerja nanti. Kemudian beranjak dari duduknya dan sedikit berlari untuk mengambil tasnya di dalam kamar.

Segera keluar dari kamar setelah memastikan tidak ada lagi yang tertinggal—menyusul Jaeho yang sudah berada di depan pintu. Yoomi beringsut memeluk Jaeho dari belakang. “Gomawo, oppa.” Lalu cepat-cepat melepaskan pelukannya dan berjalan mendahului Jaeho. Tidak sempat melihat bagaimana reaksi sang pria saat itu.

Yoomi mengira bahwa hanya itu saja yang akan diberikan oleh Jaeho dan kenyataannya, wanita itu sudah merasa cukup. Namun ternyata saat akan turun di depan gedung kantornya, Jaeho kembali menahannya.

“Aku lupa.” Tangannya menyodorkan sebuah kotak kecil kepada Yoomi.

Yoomi yang keheranan hanya bisa menerima kotak yang diberikan Jaeho padanya. “Aku buka ya.” Bukan sebuah pertanyaan. Hanya sebagai pernyataan yang tidak perlu sebuah persetujuan untuk dilakukan. Senyumnya perlahan semakin melebar saat melihat sebuah kalung yang diberikan padanya.

Rasa senangnya sudah tidak bisa lagi ia sembunyikan. Selama ini, Yoomi tahu kalau Jaeho bukanlah tipe lelaki yang bisa melakukan hal seperti ini. Semuanya tergambar jelas dari sikap sang pria saat memberikan hadiah ini kepada Yoomi. Tidak ada satu pun kata-kata manis yang terlontar dari mulut sang pria.

“Pasangin dong.” Kembali menyodorkan kotaknya pada Jaeho.

Jaeho pun hanya menurut tanpa mengucapkan protes apapun. Jarak antara mereka pun menjadi sangat dekat sekarang. Yoomi bisa merasakan hembusan napas Jaeho di lehernya. Sesaat sebelum sang pria kembali menjauh, wanita itu langsung menangkup kedua pipi milik sang pria dan mencium bibir Jaeho. Pikirnya, tubuhnya akan langsung didorong begitu saja oleh Jaeho. Namun nyatanya, ciumannya mendapat balasan. Sebentar.

“Sudah gih, nanti kamu terlambat.” Jaeho langsung menjauhkan wajahnya.

Yoomi pun hanya tertawa mendengar ucapan Jaeho dan langsung turun dari mobil. “Dah, oppa.”

Beberapa kali wanita itu merasa perlu meyakinkan diri akan keputusannya untuk meminta agar ia bisa kembali lagi pada Jaeho. Hingga saat ini, dia bisa merasa begitu yakin bahwa keputusan yang ia ambil ini sudah tepat. Senyumnya kembali tersemat di wajahnya.
.
.
.
.
.

You make me happy in a way no one else can

and never did I know that you could be this important to me.




user posted image

--------------------
you’re all that I need
***
PM
^
Choi Hyoseok
 Posted: Aug 16 2017, 11:07 PM
Quote
send pm // Offline
279 posts
23 years old
drummer & gamer
ID: HAYEOESEOKA
lonely
Celebrity

4010 points
Awards: 2



Pacaran mulu idup lu. Moga awet ye. Bahagia juga tentu sajha. Akhirnya kan, setelah semua perjuangan dan lelah mental serta sticker yang dispam di chat, kesampean uga. Wqwqwqq cukhae yum! Kegambar kok cintanya kegambar. Kapan kapan jeho digodain ya sama juna, biar yumi nangis dikit #nga

Bye t.

--------------------
we are VICTORIOUS
All my friends were glorious!
My touch is black and poisonous And nothing like my punch-drunk kiss I know you need it, do you feel it Drink the water, drink the wine Oh we gotta turn up the crazy Livin’ like a washed-up celebrity Shooting fireworks like it’s the Fourth of July
// panic at the disco // JOONA
PM
^
Shin Yoomi
 Posted: Aug 17 2017, 10:19 PM
Quote
send pm // Offline
117 posts
27 years old
Internal Auditor
ID: shinyoo90
not telling
Citizen

1170 points
Awards: 1



Hyoseok
Mau kasih umpatan tapi ngga bisa karena tujuan akun ini beda dengan akun sebelah(?)
Masalahnya ngga yakin nih jeho bisa tergoda sama juna. Atau sebelum jeho tergoda juga juna pasti menyerah =)) semangat aja deh ya kalo mau ngegodain.

Bye juga yg cuma bisa liat t dari layar laptop.

--------------------
you’re all that I need
***
PM
^
Shin Yoomi
 Posted: Yesterday at 11:24 pm
Quote
send pm // Offline
117 posts
27 years old
Internal Auditor
ID: shinyoo90
not telling
Citizen

1170 points
Awards: 1



Disclaimer:
2.525 words versi microsoft word. Shin Yoomi adalah karakter milik saya sementara Jang Donghyun adalah milik PMnya. Credit judul; Maroon5

Prompt:
5. The fear of being alone



"I would still be holding you like this—"





2007년


Hari itu sudah larut—sangat larut lebih tepatnya. Tapi Yoomi baru saja menginjakkan kakinya di rumah. Hagwon dan self study membuatnya cukup lelah. Kepalanya terasa sakit sejak sore tadi. Salah satu tangannya memijit pelipis pelan—mencoba untuk menghilangkan rasa sakit di kepalanya. Kiranya ia bisa segera tidur setelah sampai rumah. Namun sepertinya keinginan sang gadis hanya akan menjadi sebuah harapan. Suasana rumah yang biasanya sangat sepi seperti tak berpenghuni mendadak menjadi bising karena ayah ibunya sedang berada di rumah—

—dan mereka saling berteriak.

Shin Yoomi hanya terdiam di lorong pintu. Mendapati kedua orang tuanya berada di rumah saja sudah sesuatu hal yang aneh ditambah lagi dengan teriakan keduanya. Sekilas, ia bisa mendengar suara ibunya yang terdengar berbeda. Ibunya menangis. Ia mendengar semuanya tetapi memilih untuk berpura-pura tidak mendengar apapun.

Pelipisnya semakin berdenyut. Telinganya sakit mendengar makian yang dilontarkan sang ibu pada sang ayah. Ayahnya pun tidak ingin mengalah—berteriak dan menyuruh agar istrinya itu diam untuk mendengarkan penjelasannya. Shin Yoomi tidak peduli. Gadis itu memutuskan untuk melangkahkan kakinya menuju lantai atas kediaman mereka dan kembali mengerjakan pekerjaan rumahnya.

Menurut sistem penghitungan Korea, usianya masih delapan belas tahun, cukup berat rasanya mengetahui bahwa sang ayah melakukan hal tidak pantas di luar sana. Memiliki wanita lain selain sang ibu. Sesungguhnya Yoomi tidak akan pernah peduli jika kedua orang tuanya tidak menciptakan keributan seperti ini. Toh keduanya juga tidak pernah memedulikan keberadaan Yoomi. Hubungan keluarga mereka tidak seperti keluarga pada umumnya. Orang tuanya selalu sibuk dengan kegiatan masing-masing, mengabaikan anak semata wayang mereka yang sebenarnya sangat membutuhkan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Tapi tidak sekali pun Yoomi mengeluh. Gadis itu justru mencoba mengerti posisi kedua orang tuanya.

Karena ibunya pernah mengatakan bahwa mereka sibuk bekerja demi memenuhi kebutuhan Yoomi. Pernyataan yang sebenarnya tidak pernah Yoomi mengerti hingga saat ini.

Saat masih duduk di bangku sekolah dasar, orang tuanya bahkan tidak pernah memenuhi undangan untuk datang ke sekolah. Hanya ada ahjumma yang akan menggantikan sang ibu untuk datang. Yoomi tahu ia berbeda dengan teman-temannya. Mereka akan berjalan bersama sang ibu saat pulang sekolah. Sementara Yoomi hanya akan berjalan sendirian. Sering ia merasa jika orang tuanya tidak pernah benar-benar menginginkan keberadaannya di antara mereka.

Bahkan ibunya tidak pernah datang saat Yoomi membutuhkan. Tapi wanita itu datang pada Yoomi dengan membawa masalah yang begitu rumit.

---


Pagi-pagi sekali sang ibu masuk ke kamarnya. Menimbulkan beberapa keributan. Yoomi yang saat itu baru saja tertidur terpaksa kembali membuka matanya. Sungguh pemandangan yang sangat jarang ia lihat saat ini sedang berada di depan mata. Ibunya menangis. Shin Yoomi yang baru saja membuka mata berusaha mengumpulkan kesadarannya. Menghela napas dan salah satu tangannya mengusap matanya sendiri yang masih terasa lengket.

“Ibu kenapa?” Suaranya bahkan masih terdengar parau. Agak lama Yoomi menunggu jawaban dari sang ibu.

“Ibu baca pesan singkat di ponsel ayahmu.”

Yoomi mengerutkan dahinya, “Lalu?”

“Lalu menemukan pesan dari perempuan. Mereka sering bertemu dan pesannya cukup mesra.”

Yoomi tahu kalau ini yang diributkan kedua orang tuanya semalam. Samar-samar gadis itu mendengar apa saja yang dibicarakan kedua orang tuanya. Tapi tetap saja dadanya terasa sakit. Haruskah Yoomi menyimpan luka untuk kesekian kali karena orang tuanya?

Salah satu tangannya menggenggam selimut. Sementara pandangannya lurus—menatap sang ibu yang masih menangis. Jujur saja Yoomi tidak mengerti harus berbuat apa. Sejak kecil gadis itu tidak pernah diajarkan bagaimana caranya mengatakan kalimat yang menenangkan dan bagaimana harus bersikap hangat pada orang lain. Situasi ini begitu sulit baginya. Tubuhnya terasa kaku, lidahnya pun kelu. Cukup lama ia hanya memandangi sang ibu. Menghembuskan napas berat. Gadis itu benar-benar bingung harus bagaimana.

Pada akhirnya ia hanya membiarkan ibunya menangis. Mungkin memang itu yang dibutuhkan ibunya. Menangis agar merasa sedikit lega. Hingga akhirnya sang ibu benar-benar berhenti menangis.

“Sudah kamu siap-siap ke sekolah.” Wanita setengah baya itu akhirnya keluar dari kamar sang putri. Meninggalkan putrinya yang masih menatap lurus tembok di hadapannya.

---


Sudah satu bulan berlalu sejak pertama kali Yoomi mendengar pertengkaran kedua orang tuanya. Namun masih belum ada tanda-tanda bahwa masalahnya telah selesai. Keduanya memang lebih sering pulang ke rumah sekarang. Bukan untuk menemani putrinya. Mereka pulang hanya untuk bertengkar yang rasanya semakin hari semakin parah karena sang ibu yang suka sekali melontarkan kalimat nyinyir hingga ketenangan di rumahnya kembali terusik. Ibunya tidak pernah puas mendengar penjelasan ayahnya. Begitu pun sang ayah yang tidak pantas dihakimi lagi karena telah meminta maaf.

Di saat sulit seperti ini Yoomi tidak memiliki siapapun untuk berbagi cerita. Gadis itu menjadi lebih pendiam daripada sebelumnya. Satu-satunya teman bercerita hanyalah sepupunya—Shin Heejin. Hanya saja Yoomi tidak tega jika harus memotong cerita bahagia sang gadis saat menceritakan kekasihnya hanya untuk membagikan kisah menyedihkan atau mungkin lebih tepat jika disebut memalukan.

Selama ini gadis itu pun lebih memilih untuk menghabiskan malam di ruang baca daripada harus pulang ke rumahnya dan mendengarkan pertengkaran kedua orang tuanya. Terlebih cerita ibunya yang kurang lebih sama setiap harinya. Ingin sekali rasanya Yoomi mengatakan bahwa ia muak. Ia tidak ingin tahu masalah kedua orang tuanya. Lagipula mereka juga tidak pernah ingin tahu bagaimana keadaan Yoomi selama ini. Rasanya menyiksa diri di tengah tumpukan buku dan mengisi kepalanya dengan berbagai teori membuat Yoomi lebih tenang. Setidaknya ia bisa sejenak melupakan apa yang sedang terjadi di rumah.

Tangannya meraih ponsel yang tergeletak di meja. Sudah pukul dua malam dan tidak ada keinginan sama sekali untuk pulang. Orang tuanya pun sama sekali tidak menanyakan keberadaannya. Mungkin memang keduanya tidak menyadari jika Yoomi tidak ada di rumah. Seringkali gadis itu bertanya-tanya apakah keberadaannya memang tidak pernah diinginkan sehingga tidak satu pun orang peduli padanya. Bahkan kedua orang tuanya yang seharusnya menjadi tempatnya untuk bersandar juga tidak pernah memedulikannya.

Kepalanya disandarkan pada meja sementara jari telunjuknya mengetuk pelan permukaan meja. Pikirannya melayang-layang entah ke mana. Sudah ia putuskan akan tidur di ruang baca hingga besok pagi. Tangannya meraih ponsel yang tadi ia letakkan asal di atas meja. Mengetikkan sebuah pesan singkat pada Heejin. Bertanya apakah sepupunya itu sudah tidur. Namun, sesaat setelah mengirimkan pesan pada Heejin, Yoomi justru terlelap. Wajahnya terlihat sangat lelah karena memang seharian ini gadis itu tidak membiarkan tubuhnya istirahat barang sejenak.

---


Punggungnya disandarkan pada sandaran kursi. Pandangannya fokus pada orang-orang yang lalu-lalang di luar sana. Pagi-pagi sekali Yoomi sudah bertolak dari Daejeon menuju Mokpo untuk menemui Heejin, sepupunya. Mereka tidak akan langsung bertemu di rumah Heejin melainkan akan mengobrol sebentar di kafe yang sering dikunjungi Heejin. Katanya agar tidak terganggu saat sedang mengobrol. Lagipula Yoomi juga tidak ingin paman dan bibinya mendengar masalah yang sedang terjadi di keluarganya. Gadis itu juga telah mewanti-wanti sepupunya agar tidak menceritakan apa yang sudah diketahui pada orang tuanya.

Unni...

Yoomi refleks menolehkan kepalanya untuk melihat seseorang yang datang menghampiri. Heejin dan seorang laki-laki di belakangnya. Dari ekspresi yang ditunjukkan Heejin sepertinya Yoomi bisa menebak jika laki-laki itu adalah kekasih Heejin seperti yang selalu diceritakan Heejin padanya. Senyumnya pun tersemat di wajah menyambut Heejin yang mulai mendekat.

Unni, kenalkan ini pacarku.” Heejin menunjuk ke arah laki-laki yang ada di belakangnya. Semantara sang laki-laki hanya menampakkan senyum senang dan sedikit tersipu. Tanpa sadar, Yoomi menatap anak laki-laki itu dari ujung rambut hingga ujung kaki. Hatinya sudah menghakimi namun Yoomi memilih untuk tetap diam dan memberikan senyuman yang dipaksa pada laki-laki yang menyebut dirinya sebagai Jang Donghyun.

Donghyun tidak lama berada di sana. Hanya ingin mengantarkan Heejin katanya. Syukurlah karena Yoomi pun tidak sedang dalam kondisi yang baik untuk memberikan respons ramah pada laki-laki itu.

“Kamu kok bisa suka sama dia sih?” Yoomi langsung buka suara sesaat setelah Donghyun pergi.

Heejin tertawa mendengar pertanyaan Yoomi. “Tidak perlu alasan untuk menyukai orang, unni.”

Mendengar jawaban yang diberikan Heejin membuat Yoomi mengangkat sebelah alisnya. Ada satu yang membuat Yoomi selalu iri pada Heejin. Gadis itu sangat manis dan tidak pernah menyimpan kebencian di dalam hatinya. Sungguh berbeda dengan Yoomi yang sangat jauh dari kata manis dan selalu penuh dengan kebencian. Terlebih saat mendengar jawaban Heejin barusan. Yoomi tidak mengerti bagaimana rasanya menyukai seseorang hingga tidak memerlukan alasan apapun untuk menyukainya. Sehingga ia tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Heejin.

“Makanya unni cari pacar dong.” Gadis itu terkekeh yang kemudian disusul dengan tawa hambar dari Yoomi. Ada masa-masa di mana Yoomi kesal pada Heejin tapi sekesal apapun hatinya pada Heejin, Yoomi tetap saja tidak bisa marah pada sepupunya itu. karena biar bagaimanapun, Heejin ada satu-satunya teman yang ia miliki.

---


Gwenchanha?” Heejin menatap wajah Yoomi yang sudah tampak sangat lelah.

Sementara Yoomi hanya menggeleng pelan sambil tersenyum hambar. Kemarin, gadis itu sempat menceritakan masalah di rumahnya pada Heejin melalui telepon. “Aku pusing.”

Heejin pun beranjak dari posisinya sekarang, memilih kursi di samping Yoomi. Tangannya menepuk-nepuk pelan bahu Yoomi. Tidak ada kata yang dikeluarkan gadis itu. Selama beberapa menit hanya keheningan yang mendominasi mereka. Hingga akhirnya Heejin kembali bersuara.

“Tidak apa-apa kalau unni mau menangis.”

Jarang sekali Yoomi menunjukkan air matanya pada orang orang lain. Tetapi kali ini gadis itu hanya ingin menangis sekencang-kencangnya hingga ia merasa lega. Tangannya mengusap air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya. Sesungguhnya Yoomi bingung. Gadis itu tidak mengerti harus bagaimana. Seluruh tubuhnya terasa begitu lelah. Bukan hanya fisik tapi juga psikis.

Yoomi hanya menghela napas. Masih berusaha menahan air matanya agar tidak menangis di tempat umum seperti ini. Sejauh ini ia bisa melewati segala hal sendirian. Jadi yang satu ini pun pasti bisa ia lewati tanpa masalah. “Aku nggak ngerti harus gimana. Aku capek.”

Selama ini ia merasa hidup sendiri tanpa siapapun. Lalu saat orang tuanya mengalami masalah sebesar ini, dia pun harus terkena imbasnya. Ikut memikul beban berat karena ibunya yang terus saja mengatakan hal macam-macam padanya. Yoomi tidak mengerti harus berbuat apa selain hanya mendengarkan ibunya. Meskipun jauh di dalam hatinya gadis itu muak mendengarkan cerita yang terus saja diulang-ulang. Sementara kepalanya sudah terlalu penuh dengan urusan sekolah.

Ada satu hal yang selalu dipedulikan oleh ayah dan ibunya. Bagaimana prestasi Yoomi di sekolah. Ayah dan ibunya selalu melihat hasil belajarnya. Dan akan murka jika mereka tidak merasa puas.

“Yasudah, unni istirahat saja dulu.” Tangan Heejin masih menepuk nepuk punggung Yoomi.

Sejauh ini, hanya Heejin yang selalu mendengarkan keluh kesahnya. Hanya gadis itu yang bisa mengatakan kalimat-kalimat menenangkan dan membuat Yoomi merasa bahwa semua akan baik-baik saja.

---



2008년


Musim semi tahun ini terasa berbeda meskipun sebenarnya tidak ada yang benar-benar berbeda. Wanita yang ia sebut sebagai ibu masih saja mengganggunya dengan cerita yang kurang lebih sama dan diulang-ulang. Meskipun Yoomi telah berusaha mengalihkan pembicaran selalu saja ada hal yang membuat ibunya kembali membahas masalah itu. Orang tuanya memang lebih sering berada di rumah sekarang. Tapi itu justru membuat Yoomi semakin tidak betah tinggal di rumah.

Saat ini gadis itu sudah duduk di dalam kereta menuju Mokpo. Beberapa hari yang lalu Heejin menelepon. Gadis itu menangis dan mengatakan bahwa ia sedang bertengkar dengan Donghyun. Heejin mengatakan bahwa ia sedih sekali karena Donghyun marah padanya. Yoomi sangat benci mendengar orang menangis. Lelah rasanya karena hampir setiap hari ia mendengar ibunya mengeluh, berteriak, dan menangis. Bahkan saat ini gadis itu akan merasa ketakutan saat mendengar seseorang berteriak. Jangankan berteriak, mendengar ibunya berbicara dengan volume suara yang sedikit lebih lantang saja membuat jantungnya berdegup cepat.

Kepalanya tertunduk memandangi ujung kakinya. Sementara kedua tangannya berada di dalam saku mantel. Ponselnya tiba-tiba berdering. Dahinya berkerut tipis saat melihat bibinya yang menelepon. Jarang sekali bibinya tiba-tiba menelepon.

Sesaat setelah Yoomi menempelkan ponsel pada telinganya ia mendengar suara gaduh. Gadis itu belum sempat berkata apa-apa. Tangannya sudah lemas saat mendengar bibinya menangis. Pikirannya kalut karena merasa ada hal yang tidak seharusnya terjadi sekarang.

“Bibi ada apa?” Yoomi tidak siap jika harus mendengar sesuatu yang buruk saat ini. Namun dari apa yang ia dengar, gadis itu mengasumsikan jika sesuatu yang buruk telah terjadi. Bibinya tak kunjung bicara hingga Yoomi mendengar lagi suara gaduh dan pamannya sudah menggantikan sang bibi untuk berbicara.

---


Pandangannya mendadak menjadi kosong. Tangannya meremas-remas ujung mantelnya. Sekujur tubuhnya terasa begitu lemas. Yoomi langsung memutus sambungan telepon setelah mendengar kabar dari pamannya. Heejin terlibat kecelakaan katanya dan gadis itu meninggal. Heejin yang selalu menjadi temannya itu sudah tidak akan bisa ia temui lagi.

Untuk pertama kalinya, Yoomi merasakan langit seakan runtuh begitu saja. Ia merasa kedua kakinya diambil. Seseorang yang selalu menguatkan dan menemaninya selama ini pergi dan tidak akan kembali lagi apapun yang terjadi. Pikirannya kalut sekali. Yoomi bahkan tidak mengerti harus berbuat apa sekarang. Beberapa kali tangannya mencubit lengannya sendiri—mencoba meyakinkan bahwa ini hanya mimpi. Ia akan bangun setelah ini dan bertemu dengan Heejin.

Matanya terasa panas. Gadis itu bisa merasakan bahwa air matanya mulai menggenang. Salah satu tangannya bergerak untuk mengusap air matanya sebelum air matanya jatuh dan orang-orang akan melihat kalau ia menangis. Perjalanannya masih membutuhkan waktu tiga puluh menit lagi. Dan waktu tiga puluh menit itu akan ia gunakan untuk menenangkan diri sejenak. Biar bagaimana pun Yoomi masih harus pergi menemui paman dan bibinya.

Dalam hatinya, gadis itu menyalahkan dirinya sendiri. Kalau saja Yoomi tidak mengiyakan ajakan Heejin untuk bertemu di kafe. Seharusnya Yoomi meyakinkan sepupunya itu untuk bertemu di rumah saja. Seharusnya Yoomi bersikeras untuk datang ke rumah gadis itu. Seharusnya mereka tidak usah bertemu. Seharusnya bukan Heejin yang mengalami hal itu.

Karena Yoomi lah yang lebih pantas mengalami itu semua. Gadis baik seperti Heejin tidak pantas berakhir tragis.

---


Pakaiannya serba hitam. Orang-orang yang datang pun semua mengenakan pakaian hitam. Bibinya tidak ada di sini. Hanya ada sang paman yang membungkuk membalas ucapan bela sungkawa dari tamu yang datang. Bibinya terus saja menangis sehingga harus dibawa ke tempat lain agar bisa menenangkan diri. Yoomi pun bisa mengerti bahwa kematian Heejin merupakan pukulan berat bagi kedua orang tuanya mengingat gadis itu hanyalah anak satu-satunya. Shin Yoomi juga bisa merasakan kesedihan paman dan bibinya.

Gadis itu hanya berdiri di dekat pintu. Matanya tertuju pada lantai. Hingga detik ini ia masih berharap bahwa semua ini hanya mimpi buruk. Setelah ini ia akan bangun dan Heejin masih ada di sekitar mereka. Karena bagi Yoomi, Heejin sudah seperti adik kandungnya sendiri. Mereka saling melengkapi satu sama lain. Sama-sama menjadi anak satu-satunya di dalam keluarga, membuat mereka menjadi mengerti bagaimana perasaan masing-masing. Keberadaan Heejin memiliki peran yang begitu besar bagi Yoomi.

Mungkinkah Tuhan sedang membencinya.

Setelah apa yang terjadi pada keluarganya, sekarang Ia bahkan mengambil Heejin—satu-satunya tempat berbagi yang dimiliki Yoomi. Gadis itu sadar bahwa ia memang bukan umat yang taat. Tapi tak bisakah Tuhan membiarkannya melewati satu per satu masalah yang ada atau mungkin gadis itu memang ditakdirkan untuk menjadi pembawa nasib buruk. Karena sepertinya semua orang enggan mendekatinya seakan ada sesuatu yang buruk terjadi jika mereka bersinggungan dengannya.

Secara tidak sengaja maniknya menangkap sosok familier—Donghyun—laki-laki yang telah membuat Heejin menangis eberapa hari lalu. Entah mengapa hatinya terasa sakit saat melihat laki-laki itu. Biar bagaimana pun, Heejin pergi di saat gadis itu mempunyai masalah dengan Donghyun. Membuat Yoomi menjadi sangat kesal pada sang laki-laki dan ingin sekali rasanya memaki laki-laki itu. Yoomi ingin menyuruh laki-laki itu pergi dari sini. Mendorongnya jauh-jauh agar tidak pernah mendekati Heejin lagi. Memberikan perintah pada sang laki-laki agar tidak pernah mendatangi Heejin apapun alasannya. Yoomi memang bukan saudara kandung Heejin. Tetapi selama ini mereka berdua selalu ada untuk menguatkan satu sama lain. Sehingga kepergian Heejin merupakan sebuah pukulan yang berat bagi Yoomi.

.
.
.
.
.

And now,

Her world has crumbled.


--------------------
you’re all that I need
***
PM
^
1 User(s) are reading this topic (1 Guests and 0 Anonymous Users)
0 Members:

Topic Options
Add Reply
New Topic
New Poll


 


 

Affiliates [ View All | Link-us | Apply ]
Toshi Haku Battle Royale RPG SAD (Shinobi Another Dimension) Indo Eyeshield 21 Bauklötze - Shingeki no Kyojin RPF Tales of Middle Earth The Black Clover 
 


skinned exclusively by ree of shine. cfs by black. modified by neng. do not reproduce.