WBEntxSeoul2.0

Latest Shouts In The Shoutbox -- View The Shoutbox · Rules Collapse  


 
Add Reply
New Topic
New Poll

 it's not that good but i'll try
Oh Hyeri
 Posted: Jun 1 2018, 01:05 PM
Quote
send pm // Offline
124 posts
17 years old
kelas 2 SMA Guro, fotografer amatir
ID: heyohri
having a crush on someone
Closed Plot

1400 points
Awards: None


  • WB Entertainment universe belongs to the staff
  • Oh Hyeri, Oh Hiro, their eomma belongs to me. Oh Hyorin belongs to her respective PM
  • 1018 words of goodbye
  • I'm sorry but thanks for reading^^





Sampai kapan akan seperti ini?

Hyeri masih menatap lurus ke arah jendela kamar yang basah karena hujan. Saat itu sudah lewat tengah malam. Detak jarum jam dinding terdengar beresonansi samar di tengah kamar yang hening. Sudah beberapa hari ini Hyeri tidak bisa memejamkan mata tepat waktu. Padahal seluruh tubuhnya merasa lelah karena baru kembali ke rumah pukul sebelas malam. Padatnya jadwal belajar di sekolah dan hagwon membuatnya hampir tidak memiliki waktu untuk beristirahat. Namun ketika ia sudah sampai di kamar, ia justru tidak bisa tidur.

“Hyorin…”

Anak perempuan itu memanggil adik kembarnya. Suaranya terdengar letih, tetapi setidaknya cukup lantang untuk didengar dalam kamar itu. Namun Hyeri tidak mendapati jawaban. Ia pikir adiknya tertidur sangat pulas, mungkin karena kelelahan. Hyeri yang sudah bangkit dari posisi tidurnya memutuskan untuk turun perlahan dari ranjang. Kakinya diselipkan pada sandal rumah sebelum bergerak menuju pintu kamar. Engselnya berderit pelan, tetapi Hyeri membukanya cukup cepat hingga membuat bunyinya tak begitu kentara terdengar.

Lampu di dalam rumah sudah dimatikan kecuali satu yang berada di dapur. Ibunya selalu berpesan agar tidak mematikan lampu dapur supaya tidak perlu kesulitan mencari sakelar kalau merasa haus tengah malam. Meskipun Hyeri pikir hal itu mustahil--setelah tinggal di sini cukup lama pasti juga akan hapal seluk beluk ruangan di rumah mereka sendiri--tetapi anak-anak keluarga Oh tetap mengikuti saran ibu mereka. Tidak ada yang tega menentang ibu yang terlalu lembut pada anak-anaknya seperti eomma.

“...”

Lho, kenapa eomma belum tidur?

Hyeri bergerak pelan, menghampiri dapur di mana ibunya sedang duduk di salah satu kursi makan sendirian. Di tangannya tergenggam segelas teh hangat--aromanya seperti kamomil--sementara matanya tertuju pada selembar kertas di atas meja. Hyeri tidak tahu apa yang tertulis di sana, sepertinya sebuah surat yang ditulis tangan. Namun ibunya tidak berusaha menyembunyikan apapun ketika Hyeri menarik suratnya.

Eomma ngapain baca surat malam-malam?” tanya gadis itu sembari membaca tulisan di sana. Hyeri tidak kenal tulisan itu. Namun begitu ia membaca kalimat demi kalimat yang tertera di sana, ia jadi malu sendiri sehingga ia kembali menyerahkan surat itu pada ibunya. “Ih, surat cinta dari siapa nih? Geli banget.”

Mendengar gerutuan Hyeri, ibunya terkekeh pelan. Jemarinya menyentuh puncak kepala sang anak perempuan dan mengelusnya lembut. “Dari ayahmu.”

Tentu saja Hyeri kaget hingga sepasang kelopak matanya melebar. Gadis itu menatap bergantian antara surat dengan wajah ibunya, lalu kembali pada suratnya. Benar juga. Warna kertas yang sudah agak kekuningan, tinta pulpen yang sedikit meluber ke bagian belakang kertas, semuanya mengindikasikan bahwa surat itu sudah berumur cukup lama. Hyeri juga baru membaca tanggal surat itu dikirimkan, sekitar dua puluh tahun lalu. Ah, pantas saja.

“Kenapa eomma baca surat dari appa malam-malam begini?”

Pertanyaan itu sebenarnya tidak perlu diucapkan. Hyeri harusnya tahu kalau jawabannya sudah bisa ditebak. Rindu. Ibunya barangkali sedang rindu dengan sang ayah yang kini sudah tak berada di sisi mereka lagi. Sorot mata ibunya berubah sendu. Pembicaraan tentang sang ayah selalu membawa mereka pada nostalgia tentang yang telah tiada. Atmosfer melingkupi terasa lebih berat, sedikit menyesakkan, tetapi Hyeri tidak ingin lari. Ia berpindah untuk duduk di samping sang ibu dan memeluk wanita itu erat-erat.

Eomma,” anak perempuan itu bergumam, “apa eomma menyesal karena bertemu appa dan hidup seperti ini?”

Pertanyaan itu tiba-tiba saja terbersit di pikiran Hyeri. Sejak dulu, sejak mereka diusir dari rumah keluarga Oh dan dibiarkan terlunta, Hyeri pernah merasa marah pada mendiang ayahnya. Ia melihat bagaimana Hiro oppa disakiti oleh halmeoni, melihat bagaimana ibunya dicaci maki oleh wanita tua itu. Hyeri benci, benci sekali dengan keluarga ayahnya. Ia benci dirinya yang harus menyandang marga Oh sementara keluarga ayahnya memperlakukan mereka seperti sampah. Namun dirinya tidak pernah bisa berbuat lebih, tidak bisa menyuarakan kebenciannya dengan gamblang. Ia bukan Hiro atau Hyorin, yang menurunkan sifat ayah mereka yang tegas. Dalam hal ketegasan, Hyeri sendiri lebih mirip dengan ibunya.

Ibunya tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan sentuh lembut di pipinya serta pelukan yang semakin erat. Ada air mata yang mengalir dari sudut mata sang ibu. Hyeri mengulurkan tangan untuk mengusapnya, lalu kembali memeluk ibunya seerat mungkin. Ia tahu jawaban apa yang akan diucapkan sang ibu, bahkan sebelum wanita itu mengatakannya. Orang seperti ibunya tidak akan bisa membenci pria yang disayanginya, meskipun kehidupan bersama pria itu hanya akan membawanya ke dasar neraka.

Tidak akan bisa membenci jika pria itu pun menyayangi ibunya dengan sama besarnya.

“Nanti kamu akan mengerti, Hyeri. Nanti.”

Tidak perlu diingatkan pun Hyeri sudah mengerti. Ia sangat mengerti dengan perasaan eomma sampai sakit rasanya.


***



“Kalau aku dijodohin sama seseorang karena halmeoni yang minta, eomma mau melepaskanku?”

Pertanyaan itu iseng terucap dari bibir Hyeri. Namun reaksi ibunya terlihat amat serius dan…mengejutkan. Hyeri tidak menyangka kalau ucapan main-mainnya justru membuat sang ibu terduduk dan hampir menangis. Seketika Hyeri menyesal karena sudah membuat ibunya ketakutan. Bagaimanapun juga, pembahasan mengenai nenek mereka sangat sensitif untuk sang ibu karena membuat wanita itu merasa tertekan.

“Maaf, eomma. Aku cuma bercanda,” Hyeri tertunduk, menyesal. Lalu ibunya mendadak menjitak kepalanya hingga Hyeri mengaduh. Bukan karena sakit, tetapi karena terkejut melihat ibunya tiba-tiba melakukan hal itu. Selama ini mana pernah wanita paruh baya itu memukul anak-anaknya?

“Jangan bilang begitu lagi, Hyeri-ya. Kamu masih kecil, kenapa harus berpikir sejauh itu.”

“S-siapa tahu,” Hyeri mencebik.

Ibunya menggeleng cepat. “Tidak. Pokoknya tidak akan ada perjodohan paksa buatmu. Kalau kamu mau menikah, menikahlah dengan orang yang disayangi. Orang yang kamu pilih sendiri. Untuk yang satu itu ibu tidak mau nenekmu ikut campur.”

Hyeri mendengar helaan napas lelah ibunya. Mungkin Hyeri memang berlebihan, tetapi entah kenapa hatinya terasa hangat saat mendengar kata-kata itu. Bukan karena pembelaan sang ibu, tetapi karena ia akhirnya tahu sekuat apa ibunya selama ini. Membesarkan tiga anak sendirian bukanlah hal yang mudah. Maka cara ibunya mempertahankan kebahagiaan anak-anaknya itulah yang membuat Hyeri merasa kagum.

Ia ingin tumbuh menjadi wanita sekuat ibunya.

Maka mulai saat ini, Hyeri akan berubah. Mungkin memang tidak akan persis seperti sang ibu, tetapi ia meyakinkan diri sendiri bahwa ia pun akan menjadi gadis kuat. Meskipun perlahan, Hyeri akan membuktikan bahwa ia bisa menjadi gadis kuat melindungi keluarganya seperti sang ibu.



fin.

--------------------
Know that you are worthy
I'll take your bad days with your good
Walk through the storm I would I do it all because I love you, I love you unconditionally I will love you unconditionally There is no fear now Let go and just be free I will love you unconditionally So open up your heart and just let it begin Open up your heart and just let it begin Acceptance is the key To be truly free Will you do the same for me? ------------ katy perry - joona
PM
^
1 User(s) are reading this topic (1 Guests and 0 Anonymous Users)
0 Members:

Topic Options
Add Reply
New Topic
New Poll


 


 

Affiliates [ View All | Link-us | Apply ]
Toshi Haku Battle Royale RPG Forum Sekolah Sihir Hogwarts Smiley Academy (SA) SAD (Shinobi Another Dimension) Indo Eyeshield 21 Bauklötze - Shingeki no Kyojin RPF Tales of Middle Earth The Black Clover Vampire Knight:re Legend of Terra Yuugen Vault 546 SoulMatch RPF 
 


skinned exclusively by ree of shine. cfs by black. modified by neng. do not reproduce.