WBEntxSeoul2.0

Latest Shouts In The Shoutbox -- View The Shoutbox · Rules Collapse  


Pages: (2) 1 2  ( Go to first unread post )
Closed
New Topic
New Poll

 [FIN] have we come too far to turn back?, clsd.
Yang Subin
 Posted: Nov 5 2017, 11:06 PM
Quote
send pm // Offline
327 posts
25 years old
masih bingung
ID: ysbean92
happily in love
Citizen

3270 points
Awards: 7



Gadis itu baru saja menyelesaikan rutinitasnya sebagai mahasiswi kelewat akhir saat keluar dari gedung perkuliahan. Barang-barangnya sudah dititipkan di ruang klub; tas, buku diktat, buku cetak. Menyisakan jaket denim gelap di luar sweter kelabu yang dikenakan, serta satu folder dokumen di tangan kiri. Ada yang perlu dia tanyakan pada Profesor Hyunyong soal proyek tugas akhir. Jadilah dia berada di kampus lebih lama, padahal sesi perkuliahannya sudah bubar sejak beberapa jam lalu.

Diskusinya, seperti biasa, tidak segera menemukan titik konklusi. Subin dan Profesor Hyunyong punya perspektif dan pendekatan yang cukup bertolak belakang. Percayalah, itu adalah faktor dengan sumbangsih terbesar pada tersendatnya progres tugas akhir Subin. Untungnya hari itu dia harus menyusul ke gedung laboratorium untuk berdiskusi. Cukup jauh dan melelahkan, apalagi setelah Subin lebih dulu mampir ke Emmaus untuk menitip bawaan, namun adanya alat penelitian ternyata banyak membantu. Subin jadi paham soal apa yang dibicarakan panjang-lebar oleh Profesor Hyunyong, begitu pula sebaliknya.

Durasi diskusinya jadi lebih lama, sih. Tapi hasilnya: Subin jadi menemukan titik terang dalam tugas akhir, bonus traktiran pesan antar tangsuyuk karena Profesor tiba-tiba lapar di tengah diskusi. Jadi...sepertinya itu hal baik? Subin sempat bercanda minta pertemuan-pertemuan selanjutnya di F Hall saja agar lebih mudah buat keduanya saling memahami, lalu dibelikan makanan lagi. "Besok saya mau jjajangmyun saja, Prof, biar dapat acar lobak," katanya, yang lalu disusul hardik usir Profesor Hyunyong.

Entah karena suasana hati yang baik atau cuaca yang mulai dingin, Subin mencari titik sepi di celah antara F Hall dan J Hall. Separuh menyembunyikan diri, agar tidak mengganggu orang lain. Tangannya merogoh saku jaket, meraih bungkusan yang ada di sana sejak beberapa hari lalu namun belum dibuka sama sekali. Dokumen yang diminta Profesor untuk ditinggal memudahkan gerak Subin, membuka segel dan menarik satu dari selusin lintingan tembakau yang berjajar rapi dalam boks.

Subin tahu dia seharusnya berhenti. Dia bukan perokok berat. Hampir dua minggu ini bisa dilewatinya tanpa menghisap sebatangpun rokok. Mengalihkan diri ke permen-permen pedas saat sedang ingin merokok dan tidak ada kegiatan fisik yang bisa dilakukan.

Tidak apa-apa. Jaraknya sudah lama.




--------------------
포스코 프란치스코관
27/11/2017; 15:05

--------------------
i wanted you for myself it might sound greedy but i often feel like want to see you i feel a bit uneasy that i might lose you my heart is confused
vanilla acoustic | subina
PM
^
Im Jungshin
 Posted: Nov 12 2017, 09:34 PM
Quote
send pm // Offline
73 posts
23 years old
mahasiswa; underground kickboxer
ID: jjungim
having a crush on someone
Citizen

830 points
Awards: None


"Ya, Im Jungshin."

Ia yang semulanya hanya berjalan dengan kepala yang tertunduk, refleks mengalihkan perhatiannya karena panggilan tersebut. Ia hanya diam, namun menantikan apa yang akan dilanjutkan oleh temannya tersebut. "Duluan saja. Profesor memanggilku, mungkin setengah jam lagi aku nyusul." lanjut Goo Sangmin sembari memperhatikan layar ponselnya tersebut. Tanpa perlu memperpanjang waktu, mereka melanjutkan geraknya menuju tempatnya masing-masing. Sangmin yang terpaksa memutar arah karena harus memenuhi panggilan, sedangkan Jungshin melanjutkan langkahnya ke tempat yang sudah menjadi tujuan awalnya.

Di tengah langkahnya, Jungshin merogoh sebuah kotak kecil dan sebuah pemantik api di dalam kantung jas musim dinginnya. Kedua benda kecil itu sudah disiapkannya setelah ia meninggalkan ransel dan barang lain miliknya di dalam loker, menyisakan Jungshin yang keluar gedung hanya dengan benda-benda tersebut dan dompet.

Sejak temperatur udara terus menurun dan semua tuntutan aktivitasnya yang semakin berat belum berakhir, atu per satu batang rokok di dalam kotak tersebut semakin sering pula dihabiskannya. Alasannya klise, ia hanya ingin melepaskan semua beban di kepalanya. Merasa perkuliahannya semakin berat dan ia hanya memiliki sedikit waktu luang, sehingga Jungshin menjadikan merokok sebagai cara untuk mengisi tenaganya kembali.

Lokasi yang sepi ini kerap menjadi pilihannya untuk menyendiri, terutama untuk merokok. Dibandingkan dengan area merokok yang disediakan kampus, ataupun di area Plaza, ia lebih memilih tempat ini. Tidak jauh dari gedung jurusannya pula.

Jungshin langsung menyalakan api pada pemantik, mendekatkannya pada rokok yang sudah terselip di antara dua belah bibirnya. Hisapan pertama pada rokoknya dalam, sehingga ia mengepulkan asap yang banyak di depan wajahnya. Ia yang tadinya hendak bersandar pada sebuah tembok untuk mencari posisi paling nyaman, tertegun dengan sosok yang tidak jauh darinya. Langkahnya terhenti, tidak mencoba untuk berdiri lebih dekat. Maka, ia memilih untuk menyandarkan tubuhnya pada tembok bangunan terdekat.

"Halo. Subin-noona," sapanya pelan. Kepalanya juga ditundukkan, untuk menyapa, ketika gadis tersebut menoleh padanya.

Selama ini mereka sering berpas-pasan di sekitar kampus, dan ini adalah pertama kalinya Jungshin menyapa Yang Subin setelah sekian lama. Hanya sebuah sapaan—tidak masalah.

--------------------
four seasons, they've flied by
we don't even need to mention all the things that matter Or anything you're stressing 'bout Just tell why your day was good And love me after hours - Rex orange county's 4 seasons
PM
^
Yang Subin
 Posted: Nov 25 2017, 01:53 AM
Quote
send pm // Offline
327 posts
25 years old
masih bingung
ID: ysbean92
happily in love
Citizen

3270 points
Awards: 7



Celah tidak seberapa luas yang sedang ditempati Subin itu sesungguhnya bukan titik umum seseorang akan merokok. Kampus mereka punya kawasan sendiri untuk itu, memfasilitasi para perokok agar leluasa berjamaah mengasapi paru-paru. Sekaligus mempersilakan pembenci tembakau untuk mengambil rute memutar agar tidak harus melewati area tersebut di jam-jam ramai. Jika saja dia mau pergi, sebenarnya lebih mudah untuk merokok di sana. Tidak perlu menghindar dari keramaian lalu bersembunyi di balik dinding seperti seorang kriminal.

Nyatanya, gadis itu tidak pernah bertandang ke kawasan-kawasan khusus perokok. Bahkan bisa dibilang, Subin hampir tidak pernah merokok di area kampus. Sedari awal dia tidak begitu suka ada orang lain yang terang-terangan melihatnya merokok, lebih lagi jika orang tersebut tidak punya kebiasaan serupa. Pergi ke smoking area sama saja dengan mendeklarasikan pada seisi kampus bahwa Yang Subin membawa sebungkus lintingan tembakau, dan akan segera mengisap sebatang. Sudut yang tersembunyi dari keramaian dinilainya lebih baik. Tidak ada yang melihat, tidak ada juga yang terpaksa menjadi perokok pasif.

Kemudian, teman-temannya. Subin sudah berpesan agar dia diingatkan bahkan dimarahi saat ketahuan merokok lagi. Niatnya untuk berhenti diberitahukan pada teman-teman terdekatnya. Yang, tentu, disambut riuh. Dinanti-nanti terjadinya sejak pertama kali Subin ketahuan merokok, mereka tidak repot menutupi antusiasme dukungan untuk itu.

Dua faktor itulah yang mendorong Subin bersembunyi di sini sekarang, menjepit ujung rokok dengan bibir dan berusaha menyalakan ujung lainnya. Bungkus yang tadinya masih tersegel itu bertahan utuh sejak dibeli sekitar dua minggu lalu. Hanya pindah dari satu tas ke tas lain, dari tas ke saku jaket, dari satu jaket ke jaket lain. Subin merasa dirinya perlu menghadiahi diri sendiri atas itu. Dia toh bisa bertahan selama dua minggu, kiranya tidak akan sulit memulai lagi. Bukan masalah. Ini yang terakhir.

(Pola pikir yang buruk.)

Sapaan kasual yang didengarnya, entah mengapa, menarik refleks Subin untuk cepat menyembunyikan rokok dan korek api ke balik punggung. Sosok yang dilihatnya saat menoleh itu adalah orang yang paling tidak Subin ingin temui saat gadis itu merokok. "Eo..." Pandangannya turun, menghindari mata yang mungkin masih menatapnya.

"H-halo," sapanya balik. Pelan dibanding biasanya Subin bicara pada orang-orang yang dikenalnya baik. "Jungshin...ssi."

Kaku sekali.

--------------------
i wanted you for myself it might sound greedy but i often feel like want to see you i feel a bit uneasy that i might lose you my heart is confused
vanilla acoustic | subina
PM
^
Im Jungshin
 Posted: Dec 27 2017, 03:25 AM
Quote
send pm // Offline
73 posts
23 years old
mahasiswa; underground kickboxer
ID: jjungim
having a crush on someone
Citizen

830 points
Awards: None


Ada penyesalan yang datang langsung kepada dirinya. Mengapa ia harus lebih memilih untuk menyapa daripada melangkah jauh dari posisinya berdiri saat ini? Padahal tidak masalah jika ia harus terpaksa membuang rokoknya dan memberi kabar pada Sangmin kalau ia tidak lagi berada di tempat tersebut. Atau, ia bisa langsung mencari tempat lain dan sudah pasti Jungshin akan disusuli kemanapun ia pergi. Justru akan lebih buruk lagi ketika temannya tersebut datang menyusulnya, meskipun hanya dalam hitungan waktu tiga puluh menit.

Satu hal lagi yang membuatnya menyesal adalah, mengapa ia harus menyapa Yang Subin? Padahal jarak yang merentang di antara mereka tidaklah dekat. Tidak pula keberadaannya dapat dikatakan mengganggu untuk berada di tempat terbuka ini. Tindakannya impulsif. Mempertimbangkan baik dan buruk akan memakan waktu yang lama dan kata hatinya mendorong lebih kuat untuk bertahan di sana dan menyapa Yang Subin.

Well, just because.

Sudah lama sekali ia tidak mendengar suara tersebut menyebut namanya. Ia sadar bahwa situasinya ini membuatnya merasa kaku dan tidak nyaman. Semua yang dirasakannya saat ini berlandaskan pada intensi Jungshin yang ingin pergi dari tempat ini. Namun, sudah terlanjur dan melarikan diri hanya akan membuat dirinya terlihat bodoh. Maka, ia memaksakan sebuah senyuman tipis terpeta di wajahnya. Berharap ia dapat membuat dirinya merasa sedikit lebih nyaman. Begitu pula di mana ia juga berharap bahwa hal tersebut dapat menular pada sang gadis.

"Maaf kalau aku menganggu. Aku akan pergi secepatnya." Satu puntung rokok dan tidak lagi. Setelah ini ia harus melangkahkan kakinya jauh dari tempat ini.

Puntung rokok miliknya dihisap kembali, kemudian disusul kembali dengan asap yang mengepul. Jungshin menundukkan kepalanya, mencoba untuk mengurus urusannya sendiri dan tidak memancing percakapan lagi dengan Yang Subin. Meskipun begitu, ia mencoba untuk mengintip Yang Subin melalui ujung pandangannya. Gerakan Subin yang ganjil lantas menarik perhatiannya. "Merokok juga?" Tempat seperti ini memang jadi titik favorit untuk mahasiswa yang ingin menghilang dari keramaian dan melakukan hal yang sama dengannya. Meskipun ia jarang sekali datang untuk menyendiri dan merokok, tempat ini masih menjadi favoritnya.

"Sejak kapan?"

Sepengetahuannya Subin tidak merokok, ah, entahlah. Itu hanya fakta yang diketahuinya sejak beberapa tahun lalu.

--------------------
four seasons, they've flied by
we don't even need to mention all the things that matter Or anything you're stressing 'bout Just tell why your day was good And love me after hours - Rex orange county's 4 seasons
PM
^
Yang Subin
 Posted: Dec 30 2017, 11:31 PM
Quote
send pm // Offline
327 posts
25 years old
masih bingung
ID: ysbean92
happily in love
Citizen

3270 points
Awards: 7



...ssi?

Subin menundukkan kepala lalu merutuki diri sendiri. Menyebut nama dengan imbuhan formal begitu, rasanya asing sekali. Sang gadis berkali-kali, dalam hati, melatih dirinya untuk menyebut Jungshin dengan panggilan formal. Berjaga-jaga agar suatu saat jika harus bicara langsung dengan pemuda itu, Subin tidak perlu membuat Jungshin merasa kurang nyaman dengan panggilan akrab yang belum juga ditanggalkan. Subin tidak tahu kalau yang keluar dari lisannya bisa sekaku itu. Apa seharusnya sapaan padanya tadi dibalas tanpa menyebut nama, karena gadis itu belum yakin bagaimana harus merujuk Im Jungshin sekarang?

Sial. Subin merasa sedang dipermainkan oleh keadaan.

"Jangan!" Refleks bekerja lebih cepat dari pikiran. Geraknya mengambang tertahan; langkah mendekatnya ditarik kembali. Subin mengulum bibir karena menyadari suaranya terlalu keras. "Maksudku..." tambahnya, menghindari tatapan Jungshin yang mungkin sedang tertuju padanya, "nggak perlu sampai pergi. Kamu."

Apakah dia terlihat tidak suka dengan kehadiran Jungshin di sana? Oh, percayalah, kenyataannya sama sekali tidak. Dalam sudut hatinya bahkan ada senang karena bisa bertemu lagi dengan pemuda itu. Berdiri hanya dengan jarak beberapa meter, tidak perlu sampai berteriak agar bisa mendengar suara yang lain. Bukan sekelebat bayang yang kemudian dianggap ilusi, atau kehadiran yang membuatnya sengaja menyembunyikan diri. Berada di tempat dan waktu yang sama, untuk saat ini, tidak bertindak seperti sepasang kutub senama yang saling menghindari.

"O-oh? Oh!" Rokok berikut pemantik yang ada di tangan buru-buru dimasukkan kembali ke saku. "Ah...iya." Keluar dari siku, masing-masing tangannya mengelus siku tangan yang berlawanan. Angin berembus perlahan, meniupkan dingin sekaligus memainkan anak rambut yang jatuh membingkai paras Subin. Hari itu rambutnya diikat cukup tinggi, membuat lehernya bertemu langsung dengan dingin cuaca pengujung musim gugur.

Pertanyaan `sejak kapan` yang diajukan Jungshin tidak segera dijawab. Sang gadis mengulur waktu sejenak. Subin ragu untuk menjawab jujur kisaran waktu dia mulai merokok, khawatir kalau-kalau pemuda itu tahu bahwa Subin melarikan diri pada tembakau setelah putus darinya, lalu merasa bersalah. Tidak, dia tidak mau Jungshin minta maaf lagi kepadanya.

Tawa kecilnya terdengar setengah dipaksakan. "Aku berniat untuk berhenti," gadis itu menjawab, yang kemudian disambung kembali dengan tawa sama canggung. Kontradiktif, eh? Menyatakan bahwa dia ingin berhenti, tepat setelah kedapatan sedang menyulut. "Ternyata nggak gampang," katanya, "karena sudah jadi kebiasaan." Meninggalkan sesuatu yang sudah jadi rutinitas memang tidak pernah mudah, bukan begitu?

--------------------
i wanted you for myself it might sound greedy but i often feel like want to see you i feel a bit uneasy that i might lose you my heart is confused
vanilla acoustic | subina
PM
^
Im Jungshin
 Posted: Jan 31 2018, 01:34 AM
Quote
send pm // Offline
73 posts
23 years old
mahasiswa; underground kickboxer
ID: jjungim
having a crush on someone
Citizen

830 points
Awards: None


"Jangan!"

Suara itu membuatnya refleks mengalihkan pandangannya pada Subin. Sebelumnya Jungshin terus mencoba untuk memalingkan pandangan dan tidak ingin mencoba membuat kontak, namun Yang Subin membuatnya cukup terkejut dengan apa yang dikatakannya. Tidak ada respons apa-apa terlihat dari Jungshin. Ia berusaha untuk bersikap tengah walaupun ia terperangah, kemudian hanya menganggukkan kepalanya sekali setelah mendengarkan penjelasan dari Subin.

Namun, apa Jungshin akan tetap pergi? Bahkan setelah Yang Subin sudah mengatakan bahwa ia bisa berada di sini? Tentu saja ia masih memegang apa yang diinginkannya sejak awal. Ia akan tetap pergi dan tidak mengulur waktu yang lebih lama lagi di sini. Pilihannya tersebut bukan karena ia membenci Subin—tidak sama sekali. Justru ia ingin menjauhkan dirinya agar mereka tidak saling berkomunikasi lagi, seperti waktu-waktu yang telah lalu. Selama itu berlangsung ia tidak memiliki masalah dan keberadaan Jungshin dalam waktu seketika juga tidak pernah menganggu.

Mereka kerap tidak sengaja bertemu di lingkungan kampus dan itu tidak hanya terjadi sekali. Selama ini Jungshin dan Subin tidak pernah saling berbicara setelah mereka memutuskan hubungan. Hal yang biasanya Jungshin lakukan adalah hanya menyapa singkat Subin, jika terpaksa, dan kemudian kembali ke urusannya sendiri. Maka berada di posisi seperti ini, Jungshin merasa sangat aneh dan kaku.

Rokok menjadi benda pelarian dan temannya sekarang. Benda kecil ini cukup membantu untuk membuatnya merasa sedikit lebih rileks dalam situasi ini. Setidaknya ia memiliki alasan untuk menyibukkan dirinya dan menghindari kontak dari Subin walaupun hanya sesaat.

"Ah," Jungshin mengangguk seolah ia paham dengan apa yang dikatakan oleh Subin. Gadis ini sama sekali tidak menjawab pertanyaannya. "Memang sulit, tetapi harus bisa mengontrol diri saja." Seperti apa yang dilakukannya selama ini terhadap rokok. Ia tahu bahwa rokok ini perlahan bisa membunuhnya, tetapi ini juga menjadi sesuatu yang memberikan sensasi berbeda pada dirinya. Jungshin bukan perokok berat dan sangat jarang pula ia membakar benda kecil ini.

"Sudah lama?" Jungshin hanya menerka sembarangan.

Sesungguhnya ia masih penasaran dengan jawaban yang ia tunggu tadi. Namun, Jungshin tahu diri. Ia bukanlah siapa-siapa dan ia juga tidak memiliki berhak untuk mengetahui lebih jauh soal ini. Rasa penasaran itu ia sembunyikan, meskipun ia ingin tahu bagaimana Subin bisa mulai menjadi seorang perokok. Apa tiga tahun adalah waktu yang memang lama untuk mengubah seseorang?

This post has been edited by Im Jungshin: Jan 31 2018, 01:35 AM

--------------------
four seasons, they've flied by
we don't even need to mention all the things that matter Or anything you're stressing 'bout Just tell why your day was good And love me after hours - Rex orange county's 4 seasons
PM
^
Yang Subin
 Posted: Mar 11 2018, 01:33 AM
Quote
send pm // Offline
327 posts
25 years old
masih bingung
ID: ysbean92
happily in love
Citizen

3270 points
Awards: 7



"Mm, lumayan," jawabnya sembari memasukkan kembali kedua telapak tangan ke dalam saku jaket. Mungkin hanya Subin yang merasa, tapi hari ini terasa lebih dingin dari hari-hari kemarin. Karena rambutnya diikat cukup tinggi kah, atau karena dia berada cukup lama di luar ruangan dengan jaket tidak seberapa tebal? Entahlah. Gadis itu tidak tahu pasti. Sepasang telapak tangannya yang kini mengepal itu dibawa mendekat, merapatkan kancing-kancing jaket yang sejak tadi dibiarkannya terbuka.

Perhatian Subin jatuh pada ujung-ujung kaki, mengetuk dan menendang kecil plester tempatnya berpijak. Dia merasa harus menambahkan penjelasan atas jawab yang diberikannya baru saja. Jungshin mengulang pertanyaannya saat Subin coba beralih ke topik lain. Menghindar untuk kedua kali jelas tindakan kurang ajar.

"Hampir tiga tahun." Suaranya lirih, pertanda bahwa dia tidak tahu bagaimana harus memulai. Jungshin mengenalnya sebagai seseorang yang sama sekali bersih dari asap rokok, dan bahkan tak jarang mengingatkan orang-orang yang disayang untuk lebih peduli pada kesehatan mereka. Ironis, melihat bagaimana kondisi saat ini adalah gadis itu akan sedang mengisap sebatang andai tadi Jungshin tidak menyapanya duluan. "Bukan dipaksa atau diajak siapa-siapa," tambahnya, "coba sendiri karena penasaran."

Senyum tipis merekah di paras Subin. Konyol sekali, jika diingat kembali bagaimana pertama kali dia bersentuhan langsung dengan rokok. Dengan penampilan berantakan dan mata bengkak datang ke minimarket, takut-takut menunjukkan kartu identitas agar diperbolehkan membawa pulang rokok dan beberapa kaleng bir.

Jungshin masih belum ditatap langsung kendati Subin sudah tidak lagi menunduk. "Kamu, senior-senior di Alpine, teman-teman di jurusan. Kelihatannya nyaman sekali kalau sedang merokok." Dalam pikiran Subin kala itu, asap yang ditiupkan lewat mulut seperti benar-benar melepaskan stres yang dirasa setelah menjalani satu hari panjang. Alkohol hanya memberinya tambahan sakit kepala, maka gadis itu ingin tahu apakah rokok dapat membantunya merasa lebih lega. "Siapa yang tahu kalau akhirnya betulan jadi perokok, hahaha."

Kali pertama mengisap rokok, kepala Subin masihlah penuh dengan pikiran tentang Im Jungshin. Bagaimana si pemuda juga punya kebiasaan merokok, serta fakta bahwa dia sedang mengikuti kebiasaan itu. Tidak diceritakan kepada Jungshin tentu, rasa-rasanya dia tidak perlu tahu sedetail itu. "Sudah jauh lebih baik daripada dulu," intensitas merokoknya, suasana hatinya, "sudah bisa lepas dari rokok, seharusnya." Nyatanya tidak semudah itu, kan.

--------------------
i wanted you for myself it might sound greedy but i often feel like want to see you i feel a bit uneasy that i might lose you my heart is confused
vanilla acoustic | subina
PM
^
Im Jungshin
 Posted: Mar 31 2018, 08:47 PM
Quote
send pm // Offline
73 posts
23 years old
mahasiswa; underground kickboxer
ID: jjungim
having a crush on someone
Citizen

830 points
Awards: None


Jungshin tidak pernah tahu kalau Subin adalah seorang perokok. Hingga akhirnya mereka bertemu dan berbicara di tempat ini. Bagaimana mereka berdua bisa ada di sini pun adalah sebuah ketidak sengajaan. Yang mana mungkin Jungshin tidak akan pernah tahu jika Subin merokok kalau tidak bertemu di pojok sepi kampus ini. Tiga tahun, kata Subin. Tiga tahun adalah waktu yang sangat lama. Jika Jungshin menghitung waktunya kembali, ia merasa wajar bagaimana ia bisa tidak tahu soal ini. Tiga tahun lalu adalah 2014 di mana Jungshin dan Subin memutuskan hubungan mereka. Sejak itu Jungshin juga tidak ada berinteraksi lagi dengan Subin.

Sudah jelas mengapa tidak aneh mengapa Im Jungshin tidak tahu. Satu, mereka sudah lama sekali tidak berinteraksi dan saling mengetahui. Dua, kalau pun mereka bertemu Jungshin dan Subin hanya saling menyapaikan teguran singkat yang kaku atau tidak menegur seolah tidak saling kenal.

"Ah, karena penasaran..." Alasan ini sama seperti dengan alasan pertama kali Jungshin merokok. Jauh sebelum Subin mencobanya untuk pertama kali. Penasaran, kemudian ia tidak merasa ada yang bermasalah dengan tubuhnya setelah pertama kali mencoba. Maka, sesekali ia terus merokok di saat-saat yang ia mau. Jungshin tidak pernah menjadi perokok berat, dari dulu hingga sekarang. Semakin waktu berlalu, ketertarikan Jungshin pada rokok juga semakin berkurang. Bahkan rokok yang dihisapnya ini adalah rokok pertamanya setelah sekian lama.

Ia tidak akan bertanya lebih dalam lagi. Pengetahuannya Jungshin mengenai Subin yang merokok sudah cukup diketahui olehnya. Jika berbicara jujur, Jungshin tidak pernah menyangka kalau Subin akan menyentuh batang kecil berwarna putih tersebut. Jungshin juga tidak akan mengutarakan impresi pertamanya tersebut kepada Subin. Ini adalah urusannya Subin dan Jungshin tidak mau mengangkat apa yang menjadi asumsinya sejak mereka masih berpacararan hingga saat ini.

"Sekarang noona sudah mengertikan bagaimana merokok itu enak?" Jungshin terkekeh kecil. Akan ada beberapa orang yang tidak pernah merokok mempertanyakan bagaimana rasanya merokok dan apa yang membuat para perokok bisa menjadi candu. Ini juga lucu bagaimana Subin yang semulanya tidak tahu dan tiga tahun kemudian bisa mengerti. Waktu seperti dipercepat dan meloncat ke saat ini.

"Dahaengieyo, aku harap noona bisa berhenti segera. Tidak baik, haha." respon Jungshin setelah menghisap puntung rokok yang semakin pendek. "Aku juga sedang dalam usaha untuk berhenti total. " Hal positif yang Jungshin dapatkan dari merokok hanyalah rasa lega yang dapat dirasakan sesaat. Tidaklah berlangsung lama.

--------------------
four seasons, they've flied by
we don't even need to mention all the things that matter Or anything you're stressing 'bout Just tell why your day was good And love me after hours - Rex orange county's 4 seasons
PM
^
Yang Subin
 Posted: Apr 30 2018, 12:23 AM
Quote
send pm // Offline
327 posts
25 years old
masih bingung
ID: ysbean92
happily in love
Citizen

3270 points
Awards: 7



"Mm, penasaran."

Yang Subin tahu benar, bahwa afirmasi yang diberikan itu tidaklah sepenuhnya jujur. Penasaran adalah satu hal, namun Subin tidak akan pernah tergerak untuk mencoba jika tidak ada faktor lain. Im Jungshin adalah faktor terbesar, dia bisa bilang. Membaik dan ingin lepasnya Subin dari kecanduan rokok juga karena dia tidak lagi punya alasan untuk merokok selain karena sudah terbiasa. Kekasihnya lebih suka jika dia tidak merokok, dan dia bukan lagi gadis yang stres karena putus cinta. Jungshin masih datang dan pergi dari memorinya, hanya sekelebat, tidak sampai membuatnya ingin merokok lagi. Tidak akan dia katakan pada Jungshin. Pemuda itu tidak perlu tahu, sekali lagi, pemuda itu tidak perlu tahu.

Putus cinta, hahaha. Yang Subin, murung dan sedih, dan putus cinta nampak seperti frasa-frasa yang tidak cocok digabungkan.

"Apalagi untuk atlet macam kamu," sambarnya disusul kekeh pelan, "dulu aku sering ngomel karena itu. Atlet yang nggak jaga kesehatan, bikin khawatir..."

Semakin ke ujung, kalimatnya semakin pelan. Gelak santai yang didengarnya dari Jungshin terdengar begitu akrab. Tidak sadar kalau hal itu membuatnya jadi terlalu bersemangat dan tidak sengaja membicarakan masa lalu. Karenanya Subin diam, menahan diri agar tidak bicara lebih banyak tentang hari-hari yang sudah lewat. Jungshin mungkin tidak menyukainya. Subin tidak ingin pertemuan mereka lagi-lagi berakhir canggung.

Sebagian diri Subin ingin segera pergi sebelum bicara konyol lagi. Sebagian lagi ingin tinggal di sana dan berbicara lebih banyak. Sudah lama sekali sejak terakhir kali mereka mengobrol dengan normal. Tanpa getar amarah, tanpa bentak kesal, tanpa tangis tertahan. Entah kapan mereka bisa dapat kesempatan untuk berdialog sesantai ini di masa depan. Sisi egois Subin jelas ingin momen ini bertahan sedikit lebih lama lagi.

"Haengbokhaessoyo," katanya. "Waktu kita masih pacaran dulu. Waktu masih saling sayang dulu." Angin berhembus lagi tepat saat gadis itu memberi jeda. Membawa samar suara gesekan daun dan ranting dan wangi dedaunan kering sampai ke indera Subin, seakan memberi penenangan. Kilasan memori Subin sebagai kekasih Im Jungshin muncul dalam kepalanya. Gadis itu tersenyum saat mata Jungshin ditatapnya langsung. "Waktu kita senang, waktu kita sedih. Marah. Tertawa. Bertingkah konyol untuk senang-senang maupun nggak sengaja. Satupun...nggak ada yang aku sesali.

"Terima kasih, Im Jungshin." Karena sudah memberi satu bab dalam buku kehidupan Yang Subin. Karena sudah memberikan kenangan yang indah.




Haengbokhaessoyo (행복했어요): (aku) bahagia. Bentuk lampau, disampaikan dalam bentuk formal. Dalam thread ini, Subin bicara formal pada Jungshin sejak awal.

--------------------
i wanted you for myself it might sound greedy but i often feel like want to see you i feel a bit uneasy that i might lose you my heart is confused
vanilla acoustic | subina
PM
^
Im Jungshin
 Posted: May 11 2018, 11:43 PM
Quote
send pm // Offline
73 posts
23 years old
mahasiswa; underground kickboxer
ID: jjungim
having a crush on someone
Citizen

830 points
Awards: None


Jungshin tidak ingin meneliti lebih jauh lagi, meskipun ia juga ingin tahu dengan cerita-cerita yang lebih rinci dari Subin. Ketika Subin mengutarakan alasannya dengan singkat, tidak ada lagi celah untuk Jungshin bertanya lebih jauh lagi. Lagipula itu bukan urusannya, dan memangnya mau apa ia jika tahu lebih detil? Penasaran adalah alasan yang universal dan semua manusia yang ia temui akan menggunakan kata yang sama jika ditanya dengan pertanyaan tadi. Begitu pula dengan dirinya sendiri. Lebih baik ia menghindari rasa ingin tahunya sebelum ia terbawa dengan arus penasarannya itu.

"Terima kasih, noona. Tapi, tenang saja. Aku tidak sering merokok, kok." Jungshin mencoba tertawa ringan untuk merilekskan dirinya. Di saat Subin menyebutkan kata `dulu`, yang Jungshin tangkap sebagai ucapan yang membawanya ke kilas balik masa lalu, ia tertegun seketika. Apalagi ketika Subin mengingatkan Jungshin dengan kegiatan yang dahulu sangat sering dilakukannya—yang saat itu menggiring mereka ke ujung hubungan. Ia bisa lega karena selama beberapa tahun belakangan ini ia tidak sudah mencemaskan kejadian tersebut. Namun nyatanya, berada di tempat ini membuatnya merasa bingung.

Bingung karena ia tidak tahu bagaimana harus bereaksi.

Subin terus melanjutkan pembicaraannya, di saat Jungshin sudah kehabisan kata-kata dari awal. Gadis itu terus membawanya kepada memori yang telah lalu dan perlahan membuatnya merasa bersalah. Butuh waktu beberapa lama untuk Jungshin melupakan semua permasalahan yang menjadi penyebab dari berakhirnya hubungan mereka. Serta waktu yang berlalu untuk Jungshin menyalahkan dirinya tidaklah sebentar. Dan saat ini, Subin seolah sedang menyerangnya dengan nostalgia yang tidak ingin ia ingat kembali, meskipun Subin mengatakan bahwa ia senang pada saat itu. Jungshin hanya menganggukkan kepalanya dengan pelan, menerima semua kata yang masuk ke telinganya sembari tersenyum tipis yang sengaja dibuat.

Saat ini ia hanya bingung. Bukan berarti ia tidak suka dengan apa yang didengarnya dari Subin. Ia merasa cukup lega bagaimana dirinya diapresiasi sebagai sosok yang pernah membuat orang lain bahagia. Jungshin pun juga merasakan yang sama seperti Subin. Saat itu ia senang dan tidak ada satu pun momen yang ia sesali. Namun, hatinya sangat hancur di akhir cerita mereka. Kebahagiaan itu seolah memudar dan menghilang. Digantikan dengan memori hitam yang membuatnya merasa sangat bersalah.

"Terima kasih juga karena sudah baik kepadaku. Aku menghargai apa katamu itu." Setidaknya Jungshin membalas ucapan terima kasih dari Subin. Ia tidak boleh besar kepala dan setidaknya menghargai apa yang didapatkannya tersebut. "Dan, noona,... Aku minta maaf untuk apapun yang salah."

Jungshin tidak pernah meminta maaf. Setelah mereka memutuskan hubungan, Jungshin tidak memiliki niat untuk kembali mengontak Yang Subin. Setidaknya saat ini ia memiliki kesempatan tersebut.

--------------------
four seasons, they've flied by
we don't even need to mention all the things that matter Or anything you're stressing 'bout Just tell why your day was good And love me after hours - Rex orange county's 4 seasons
PM
^
1 User(s) are reading this topic (1 Guests and 0 Anonymous Users)
0 Members:

Topic Options
Pages: (2) 1 2 
Closed
New Topic
New Poll


 


 

Affiliates [ View All | Link-us | Apply ]
Toshi Haku Battle Royale RPG Forum Sekolah Sihir Hogwarts Smiley Academy (SA) SAD (Shinobi Another Dimension) Indo Eyeshield 21 Bauklötze - Shingeki no Kyojin RPF Tales of Middle Earth The Black Clover Vampire Knight:re Legend of Terra Yuugen Vault 546 SoulMatch RPF 
 


skinned exclusively by ree of shine. cfs by black. modified by neng. do not reproduce.