Printable Version of Topic
Click here to view this topic in its original format
WBEnt X Seoul 2.0 > Roleplay-based Fic > you can take my heart for a little trip


Posted by: Seo Seulhye Jul 1 2018, 11:46 PM
QUOTE
a thread dedicated to au-related writings for seo seulhye (and other characters maybe, if i think it's not gonna be messy in the future). set in very diverse timelines & universe, prompts taken from movies and books and maybe random ideas too. might/might not be related to canon plot but i do write them for fun. drop comments/questions if needed, or send me pivate messages if necessary. happy reading.




#01. you do care for a dance
in which https://images2.imgbox.com/43/65/iQZeDrWb_o.jpg and https://images2.imgbox.com/2d/65/Nsjz53s7_o.jpg live in 1950s London where he dedicates his life as an infamous dressmaker and she’s the muse he’s been waiting for his whole life. feelings come across, their two worlds collide.




— “You see, to be in love with him makes life no great mystery.” —
prompt taken from: https://www.imdb.com/title/tt5776858/






“Aku ingin pergi,” Juliet bertutur sambil menata piring demi piring dengan tomat dan peterseli.

Satu-satunya situasi istimewa yang dirasakan baik oleh Juliet maupun Jerome adalah kembang api yang meletup-letup di angkasa, terekspos di luar jendela lantai dasar rumah mereka. Ini malam tahun baru, tetapi tidak berbeda begitu jauh dengan malam-malam lain sebelum ini. Juliet yang membuat sup jamur di dapur, Jerome yang berkutat dengan kolom-kolom di surat kabar yang belum dibaca sejak pagi. Jerome tidak mengalihkan pandang, namun nyatanya sesapan terakhir di cangkir teh lelaki itu menuntunnya untuk memberikan tanggapan.

“Kupikir kau tidak serius soal ini,” baritonnya memecah sunyi yang hanya bertahan selama sekian sekon.

Kali ini, adukan sendok dalam pancilah yang terdengar mendominasi ruangan. Aroma sup jamur yang dimasaknya menguar bebas di udara, tetapi Juliet sungguh tidak bernafsu makan malam ketika yang dipikirkannya hanyalah menari di lantai dansa dengan gaun yang dibuatkan Jerome sepekan silam, di malam tahun baru. George menawarinya datang ke pesta dansa khusus malam tahun baru siang tadi, ketika ia dan Jerome menghadiri pesta pertunangan salah satu klien premium yang selalu memesan gaun di Jerome & Co., dengan kalimat persuasif yang sungguh, sungguh menggelitik telinga gadis.

(“Tahun baru lainnya di rumah?” George bertanya sambil mengangkat sebelah alis, “ajak Jerome pergi ke pesta dansaku. Di sana akan ada soda, bir, anggur, dan pertunjukkan musik serta sirkus jalanan yang semuanya kuhadirkan untuk memeriahkan malam tahun baru.” –so there she is, dying to go.

But Jerome isn’t quite a ball person. He likes spending time at home; reading and watching those soap operas on tv, sleeping on the couch thinking about which design of dress he should work on first. He’s been saying no these past three years with her, and he’s never changed his mind when it comes to his final answer.

But she’s
dying to go.

She really wants it this time.
)

“Sudah lama sekali sejak terakhir aku pergi.” Ketimbang tengah memohon, nada bicara Juliet kali ini terdengar seperti seseorang yang tengah bercerita. Menyatukan ideologinya dengan Jerome selama tiga tahun hubungan mereka membuat gadis itu cukup banyak mengorbankan banyak hal; pesta dansa adalah satu yang paling sulit untuk ia tinggalkan. Juliet menghabiskan tahun-tahun awal kehidupannya sebagai seseorang yang mencintai gerakan-gerakan syahdu mengelilingi lantai dansa. Ia terbiasa menilai satu lantai dengan lantai lainnya; terlalu licin, terlalu kesat, terlalu mulus untuk tarian bertempo cepat atau terlalu kasar untuk digunakan seorang ballerina. Ia kehilangan itu semua setelah bertemu dengan Jerome dan memutuskan untuk mengikuti apa yang lelaki itu inginkan: membuat gaun, menjadi model untuk pameran, atau sekadar memeluk tubuhnya di atas kasur kala lelaki itu jengah karena kehabisan akal untuk pakaian di musim tertentu.

Akan tetapi, ini malam tahun baru. It doesn’t happen tomorrow.

Juliet mengulangi kalimatnya di awal—hanya mengganti sedikit bagian di dalamnya menjadi, “aku akan pergi.”

Kompor ia matikan begitu saja, sup jamur yang sudah jadi dituangkan ke dalam mangkuk untuk kemudian dihidangkan di atas meja. Jerome menjatuhkan fokus di mata gadis dan melipat surat kabar di atas pangkuan. Tidak berbicara, lelaki itu, tetapi Juliet tahu ia sedang dimintai penjelasan. Ia tidak memberikan respons apa-apa. Melepas apron dan melipatnya di atas konter dapur, ia kemudian meninggalkan ruangan dengan langkah yang terdengar sedikit tergesa. Lima belas kemudian, Jerome melihat Juliet melangkah keluar pintu depan dengan gaun yang baru saja dihadiahkannya minggu lalu sebagai hadiah ulang tahun yang diberikan lebih awal.

Ia menghitung dalam hati: satu. dua. tiga. sepuluh.

Juliet tidak kembali. Gadis itu tidak berubah pikiran.


---



Setelah sekian lama, aroma bir murah ini mulai terasa tidak familier di indera penciuman Juliet.

Ia tidak meninggalkan semua ini begitu lama; hanya tiga tahun—tetapi Jerome seperti telah membawanya menembus dunia baru di mana ia tidak lagi kenal tempat dari mana ia berasal. Pemuda itu adalah sosok tersohor di kota London; perancang busana dengan tarif termahal, kualitas mendunia. Mereka bertemu secara tidak sengaja, dengan cara paling magis nan tak terduga. Jerome menghabiskan jam sarapannya di tempat ia bekerja paruh waktu, kemudian mereka berbincang secara kasual mengenai teh dan kue-kue yang disajikan sebelum jam sarapan selesai. Sudah, ia pikir itu akan menjadi akhir.

Pada kenyataannya, entah mengapa mereka bertemu kian intens setelah itu. Juliet si gadis miskin pengembara, Jerome si perancang busana dengan mata yang menyimpan rahasia dunia. Gadis itu dikenalkan akan banyak hal: anggur-anggur mahal kelas satu, orang-orang yang merupakan pembeli tetap gaun-gaun milik si pemuda, serta malam-malam di mana Jerome akan memintanya berdiri di tengah ruangan hanya agar pemuda itu bisa menemukan ide untuk gaun yang akan diciptakannya keesokan hari. Never really realized when, exactly, that they started all these things together.

Falling for someone sure feels like entering a whole new world—that she doesn’t even remember the old one she's left.


Pasangan-pasangan berdansa di tengah ruangan, beberapa yang datang seorang diri melompat-lompat karena mabuk. Musik pengiring dari atas panggung tampak tidak berdampak banyak kecuali pada mereka yang benar-benar menggerakan tungkai di lantai dansa; mengistirahatkan kepala di bahu pasangan masing-masing, trying to shush away every gloom in a sway. Juliet banyak menghabiskan waktu berdiri di sudut ruangan, balon berbentuk hati dipeluknya tanpa intensi. Di satu sisi, ia merasa begitu senang bisa benar-benar pergi dan memenuhi keinginannya yang tertunda tiga tahun berturut-turut. Di sisi lainnya, ia merasa mungkin sebaiknya ia mengajak Jerome berdansa saja, berdua, di lantai rumah mereka tanpa iringan musik dan keramaian memenuhi ruangan. Meski lelaki itu terang akan menolak usulnya, meski lelaki itu hanya akan mengembalikan fokus pada surat kabar membosankan itu alih-alih mempertimbangkan keinginannya.

Tahun baru sudah lewat sekitar dua puluh menit lalu.

Orang-orang mulai meninggalkan ruangan satu demi satu. Personil pengiring musik terakhir menggulung kabel dari instrumen yang dibawanya dan melengos meninggalkan ruangan. Juliet menghitung dengan catatan mental: dua belas. Hanya tersisa dua belas orang lainnya di sini dan ia baru akan kembali pulang jika ruangan ini sudah benar-benar kosong. Mengapa, ia juga tidak paham. Mungkin karena ia ingin Jerome tahu seberapa besar keinginannya untuk pergi, untuk berayun di lantai dansa—meski kenyataannya ia mengharapkan mereka pergi bersama alih-alih ia datang seorang diri. Gaun yang dikenakannya sudah kotor, terkena cipratan bir dari orang yang mengitari lantai dansa membawa gelas. Hari ulang tahunnya sudah berakhir dan Juliet mengacaukan hadiah yang diberikan Jerome kepadanya. Fantastis.

That is when she unknowingly senses he’s been staring at her, from the second floor, arms crossed, eyes as sharp as a hawk.

Then their eyes meet. Their universe dance on the tip of her fingers.

Captivating curve plastered on his lips. Time stops.

“Happy new year,” she reads that inaudible greeting as an offer to a worth-living life in the future, “let’s go home.”

She nods effortlessly.




(Cold, stiff Jerome has never said that before.



the only reason why her heart explodes.)


.

.

.

.

.

'
Powered by Invision Power Board (http://www.invisionboard.com)
© Invision Power Services (http://www.invisionpower.com)