WBEntxSeoul2.0

Latest Shouts In The Shoutbox -- View The Shoutbox · Rules Collapse  


 
Closed
New Topic
New Poll

 Lee Jinjoo, Citizen/Female/1995/Done
Lee Jinjoo
 Posted: Sep 20 2016, 12:20 AM
Quote
send pm // Offline
24 posts
23 years old
student; part-timer at Dominos Pizza
ID: dlwlswn
too free to be taken
New Citizen

240 points
Awards: None


LEE JINJOO
CITIZEN, NAMYANGJU 16 MEI 1995


BASIC PERSONALITY
Nama panggilan: Jinjoo
Tinggi/berat (cm/kg): 167/52
Status: belum menikah
Nama wali: -
Hobi: memasak (walaupun jarang sekali bisa membuat makanan yang enak), menonton variety show dan drama, mengoleksi perangko dan kartu pos.
Hal yang disukai: naik kendaraan umum, jajanan di pinggir jalan, kosmetik dekoratif (walaupun tidak sering benar-benar memakai), noraebang.
Hal yang tidak disukai/ditakuti/dibenci: makanan pedas (bisa menangis saat memakannya. Sungguh!), makanan yang dibuat dari organ dalam hewan, kakak laki-lakinya, ketinggian.
Deskripsi sifat karakter: Penampilannya bisa dikatakan cukup tenang. Berusaha untuk netral dan tetap dingin pada hampir semua situasi dan menilai dari berbagai sudut pandang sebelum mengambil keputusan yang berhubungan dengan orang lain. Sulit untuk berkata `tidak` jika diminta tolong, orang lain bisa dengan mudah memanfaatkannya untuk mengerjakan sesuatu. Sering bicara dengan diri sendiri jika sedang gugup. Cenderung bicara seperlunya pada orang baru namun bisa sangat penyayang kepada mereka yang dianggap sudah dekat. Bukan gadis yang selalu baik dan penurut—manusia biasa, sekali waktu akan memberontak dan melakukan hal lain yang tidak sejalan dengan aturan.


BACKGROUND INTERVIEW
Pertanyaan-pertanyaan berikut dijawab secara in-character. Kondisikan karakter menjawabnya secara gamblang dan jujur, dengan semaksimal mungkin.

"Ceritakan tentang keadaan keluarga anda, tentang orang tua ataupun saudara. Dengan siapa anda tinggal saat ini?"
“Seoul. Sendiri.” Sudah berapa tahun gadis itu meminta untuk tinggal terpisah dari keluarganya, tiga? Empat? Terhitung sejak lulus sekolah menengah, jeda dua tahun hingga akhirnya dia putuskan untuk masuk universitas. “Keluargaku di Namyangju—Ayah, Ibu, dan kakak laki-lakiku. Tidak begitu jauh dari Seoul, sebenarnya, kakakku bilang seharusnya aku tidak perlu sampai pindah dan bisa tetap tinggal di rumah.” Ada jalur transportasi cepat yang menjangkau sampai Namyangju, namun gadis itu menolak untuk tetap tinggal di rumah. Tujuannya mencari kerja dan kuliah di Seoul bukan semata karena tingkat pendapatan di sana lebih tinggi. “Orangtuaku sudah jarang berkunjung. Aku pun semakin jarang pulang.” Sibuk, alasan utamanya.

"Sekarang tentang masa kecil. Bagaimana dengan masa lalu anda? Ada yang menyenangkan atau tidak menyenangkan?"
(untuk karakter dengan orientasi seksual tidak umum, jelaskan juga latar belakangnya di sini.)
Menimbang sebentar. “Cukup menyenangkan.” Bahunya diangkat, sedikit ragu atas jawab yang baru saja diberikan. “Mungkin. Kakakku dulu sangat baik. Dia seorang laki-laki, tapi mau ikut main boneka dan masak-masakan.” Kuku-kukunya yang baru saja dipulas cat cokelat muda dipandangi. Ah, bagian ujung kelingkingnya mengelupas. “Aku bahkan dulu bercita-cita, jika punya pacar atau suami nanti ingin yang seperti kakakku. Entah sejak kapan dia jadi seperti sekarang, sampai cita-citaku bertambah satu kata. Jika punya pacar atau suami nanti tidak ingin yang seperti kakakku.” Ucapannya ditutup dengan tawa getir. Detail cerita mengenai bagaimana karakter kakaknya sekarang dilewat begitu saja. Tidak ada niat untuk diceritakan kepada mereka yang tidak dianggapnya sangat dekat. Memalukan, kau tahu.

"Orang seperti apa yang dapat membuat anda tertarik? Ceritakan tentang kehidupan cinta anda secara singkat."
(karakter dengan orientasi seksual tidak umum, jelaskan dengan rinci di sini.)
“Seseorang yang tidak seperti kakakku,” ulangnya, masih dengan tawa. Sungguhan, dia mungkin bahkan akan memilih untuk lajang seumur hidup jika yang ditemuinya adalah orang-orang seperti itu. “Kurasa kebanyakan perempuan menyukai laki-laki yang sedikit nakal?” General. Umum. Pada dasarnya memang tidak ada kriteria spesifik untuk menyukai seseorang, bukan begitu? “Seseorang yang terlalu baik bisa jadi membosankan, sedangkan yang terlalu nakal akan membuat sakit kepala. Soal fisik? Hmm. Lebih tinggi dariku, dan senyumnya bagus?”

"Saat ini anda bekerja sebagai apa? Bagaimana dengan prestasi anda di sekolah/tempat kerja anda?"
“Baru masuk universitas tahun ini. Awalnya malah tidak berniat untuk masuk sama sekali karena rasanya percuma. Menjadi lulusan universitas bukan jaminan bisa mendapatkan pekerjaan yang baik, sekarang ini.” Kenyataan. Lapangan pekerjaan yang tersedia jauh lebih sedikit dari jumlah tenaga kerja. Dengar-dengar lulusan universitas dengan nilai tinggi namun tanpa pengalaman lebih sulit mendapatkan pekerjaan. “Aku bekerja paruh waktu di restoran pizza.” Tempat dengan kartu permainan sebagai lambangnya. “Sesekali jadi pekerja lepas. Desain grafis,” sesuai dengan konsentrasi studi yang sedang dia ambil di universitas.

"Apa keinginan anda yang paling dalam? Apakah memiliki cita-cita, atau kehidupan yang sekarang saja sudah cukup bagi anda? Silakan jelaskan."
“Punya rumah sendiri,” ucapnya tanpa pikir panjang. Tidak harus di Seoul, asalkan bisa jauh dari Namyangju dan jangkauan kakak laki-lakinya. “Ayah atau ibu kuminta untuk ikut tinggal denganku, kemudian kami hidup damai sampai akhir hayat.” Dipikir kembali, keinginannya barusan terdengar seperti sesuatu yang mustahil. “Jangka pendek … aku ingin dapat pekerjaan yang pasti. Bukan menjadi pegawai tetap di restoran,” yang benar saja, “mungkin bekerja di kantor? Mendapat banyak proyek kerja lepas dan punya portofolio sebanyak mungkin.” Berguna juga untuk studinya, kan.


ROLEPLAYING SAMPLE
Silakan buat contoh roleplay dengan jumlah kata minimal 200 kata. Setting tempat bebas, setting usia adalah usia karakter saat ini. Manfaatkan contoh roleplay ini sebagai sarana untuk menunjukkan sifat karakter.


Jam kerjanya sudah berakhir. Gerai tempatnya bekerja tidak buka untuk 24 jam dalam sehari, pukul sebelas saja sudah jadi sangat larut untuk pegawai yang berjaga sejak pagi. Kursi-kursi sudah dinaikkan ke atas meja, hanya ada satu yang masih berada di atas lantai lantaran Jinjoo duduk di atasnya. Hari ini bukan gilirannya untuk mengepel dan mengecek kembali peralatan sebelum pulang. Ada dua orang lain yang masih berkelilling gerai, memeriksa apakah semua alat masak dan listrik yang tidak perlu sudah dimatikan. Sekaligus menghitung kembali jumlah petak ubin yang menutup lantai, siapa tahu, lama sekali sampai mereka kembali muncul dari balik pintu.

“Bawa pulang saja,” jawabnya saat ditanya apa yang harus mereka lakukan dengan sisa satu pan pizza. Seseorang memesannya beberapa waktu lalu, kemudian membatalkannya setelah adonan masuk ke dalam pemanggang. Jinjoo yang menerima telepon pesanan serta pembatalannya, dan dari saja bisa dia dengar bahwa si pemesan adalah pemuda yang bicaranya tidak jelas. Mungkin mabuk. “Ditinggalkan di sini pun sama saja. Tidak akan bisa dijual kembali besok.”

Gila saja kalau memang betulan dijual kembali keesokan hari. Pelanggan yang protes karena makanannya terasa aneh saja sudah masuk kategori beruntung. Restoran mereka masuk dalam rantai waralaba, ada standar tersendiri tentang bagaimana seharusnya produk dibuat dan dijual. Bukan hanya tegur, jika pengawas yang bertanggung jawab atas restoran mereka sedang sensitif, mereka bisa diberhentikan. Ada desas-desus soal perangai pengawas yang suka bertindak berdasarkan suasana hati, Jinjoo bisa melihat bahwa rumor yang beredar hampir terbukti benar setiap kali ada inspeksi.

Lampu ruangan di mana ketiga pegawai masih berada sudah dimatikan. Sekotak pizza dengan topping ayam dan jamur ada di tangan salah satunya, menunggu nasib apakah akan dibuang atau disimpan. Satu per satu keluar dari ruangan, tidak langsung pergi sementara Jinjoo masih mengunci pintu.

“Oh! Aku tahu.” Gadis dengan rambut diikat tidak jauh dari tengkuk itu mengangkat tangan kirinya yang masih memegang kunci. “Bawa saja ke tempatmu, Daeul-ah.” Sosok yang namanya baru disebut itu menunjuk hidungnya. Kenapa harus ke tempatnya, dia bertanya.

“Apa lagi? Kita makan di sana. Bertiga. Aku yang belikan kola.” Cengiran. Manajer mereka sudah pulang lebih dahulu, tidak ada yang tahu, tidak ketahuan. Tahu pun, mereka bisa mengatakan penyebab sebenarnya; pelanggan yang memesan lalu kemudian batal, tidak ada pesanan dengan jenis yang sama sampai tutup, tidak mungkin didaur ulang untuk keesokan hari karena tidak ingin meracuni pelanggan. “Bagaimana?”


This post has been edited by Lee Jinjoo: Sep 21 2016, 03:23 PM

--------------------

MEMORIES OF NOBODY.
PM
^
♛Lee Hyunwoo
 Posted: Sep 22 2016, 12:58 PM
Quote
send pm // Offline
84 posts
38 years old
Chairman
ID: hyunwoolee
taken for granted
Administrator

840 points
Awards: None


user posted image
PMEmailWebsite
^
0 User(s) are reading this topic (0 Guests and 0 Anonymous Users)
0 Members:

Topic Options
Closed
New Topic
New Poll


 


 

Affiliates [ View All | Link-us | Apply ]
Toshi Haku Battle Royale RPG Forum Sekolah Sihir Hogwarts Smiley Academy (SA) SAD (Shinobi Another Dimension) Indo Eyeshield 21 Bauklötze - Shingeki no Kyojin RPF Tales of Middle Earth The Black Clover Vampire Knight:re Legend of Terra Yuugen Vault 546 SoulMatch RPF 
 


skinned exclusively by ree of shine. cfs by black. modified by neng. do not reproduce.