WBEnt x Seoul 2.0

Latest Shouts In The Shoutbox -- View The Shoutbox · Rules Collapse  


 
Closed
New Topic
New Poll

 Nam Jinae, Citizen/Female/1997/Done
Nam Jinae
 Posted: Oct 24 2016, 08:14 PM
Quote
send pm // Offline
3 posts
20 years old
univ. yonsei, psikologi
ID: aletheia
not telling
New Citizen

340 points
Awards: None


Nam Jinae
Citizen, California, 25 Juni 1997


BASIC PERSONALITY
Nama panggilan: Jinae
tinggi/berat (cm/kg): 163/42
Status: belum menikah
Nama wali:
Hobi: dance, renang, tumblr/blog-walking, menyenangkan hati Jinyoung—if it counts.
Hal yang disukai: afeksi orang; Jinae suka sekali disayang dan selalu berperilaku semanis mungkin agar ia disayang, dance, orang-orang menyenangkan yang ramah, menonton MV boyband/girlband untuk di-cover, hangout bersama teman.
Hal yang tidak disukai/ditakuti/dibenci: takut ditinggal sendirian, takut kalau Nam Jinyoung sedang murka, binatang melata, tidak suka orang yang kotor, benci sekali dibohongi; tipikal orang yang lebih mengapresiasi painful truth dibanding beautiful lies.
Deskripsi sifat karakter: like sun she shines; selalu ramah dan berusaha menyenangkan semua orang. Banyak bicara; bukan karena ia senang melakukannya, namun lebih karena tidak ingin membiarkan situasi menjadi canggung. Warm-hearted; Jinae tahu rasanya kekurangan kasih sayang dalam sebuah keluarga yang broken, sehingga tidak mau mengulang kesalahan yang sama dan selalu berusaha baik pada orang agar dirinya disayang. Suka overthinking, mudah insecure dan khawatir berlebih pada hal-hal yang sebenarnya tidak perlu. Sangat, sangat, menyayangi kakaknya—she thinks he is her most valuable possession. Walau sampai sekarang berpikir kalau Jinyoung, mungkin, tidak menyayanginya sebesar ia menyayangi kakaknya.

BACKGROUND INTERVIEW
Pertanyaan-pertanyaan berikut dijawab secara in-character. Kondisikan karakter menjawabnya secara gamblang dan jujur, dengan semaksimal mungkin.

"Ceritakan tentang keadaan keluarga anda, tentang orang tua ataupun saudara. Dengan siapa anda tinggal saat ini?"
“Pa orang California dan Ma pure Korea.”

Jinae mengawali wawancara hari itu dengan kalimat pendek. “Aku tidak ingat pasti kapan terakhir di sana. California, maksudku. Oppa bilang kami pindah saat Oppa umur lima tahun,” telunjuknya ada di bibir selagi ia berpikir, menghitung— “jadi aku mungkin berumur... dua tahun? Atau mungkin malah kurang.” Jinae tidak begitu ingat kenangan saat masa kecilnya di California karena tidak menghabiskan waktu terlalu lama di sana. “That’s why I am culturally more Korean than Western.” Simpulnya sambil terkekeh. “Sekarang tinggal dengan Oppa.” Ini pun, ia hanya menurut saja. Dari dulu keluarganya kurang harmonis, semua sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri dan sama sekali tidak hangat. Sehingga ketika Jinyoung, kakaknya, menyuruhnya untuk tinggal bersamanya, Jinae menurut-menurut saja.

Pada dasarnya, dia memang tidak akan pernah bilang tidak pada apa yang Jinyoung kehendaki..

"Sekarang tentang masa kecil. Bagaimana dengan masa lalu anda? Ada yang menyenangkan atau tidak menyenangkan?"
(untuk karakter dengan orientasi seksual tidak umum, jelaskan juga latar belakangnya di sini.)

“Semuanya oke.” Telunjuk dan ibu jarinya membentuk simbol ‘o’ dengan senyum yang dipulas lebar. “Kayaknya aku dulu sempat kesulitan beradaptasi karena bahasa Koreaku belum terlalu lancar. Tapi itu dulu sekali. Aku mudah beradaptasi, aku kira. Mungkin hanya setahun sampai aku benar-benar bisa berteman dan literally menjadi orang Korea dari tampang dan bahasa.”

Jinae mengatakannya untuk mengalihkan pembicaraan. Keluarganya mendewakan harta di atas segalanya. Orangtuanya sibuk dan melulu fokus bekerja hingga lupa bahwa keluarga tidak sebatas dibangun dengan fondasi materiil. Jinae dimanjakan dengan uang—segala keinginannya dituruti dan dia sama sekali tidak pernah dibiarkan merasa kekurangan finansial. Namun itu yang membuat semuanya merunyam ketika ia malah tidak merasa bahagia. Tidak pernah mau menampilkan kalau ia tidak bahagia karena tidak mau menjadi beban orang. Sebisa mungkin, Jinae selalu ingin mengatasi masalahnya sendirian.

"Orang seperti apa yang dapat membuat anda tertarik? Ceritakan tentang kehidupan cinta anda secara singkat."
“Yang bagaimana ya,” dahinya mengerut halus, “mungkin, mungkin saja yang kalem dan tenang. Aku banyak bicara begini, mana bisa dapat yang sama-sama banyak bicara—bisa pecah Perang Dunia ke-3 kalau kami bertengkar nantinya.”

Punya beberapa mantan namun hubungannya tidak berjalan mulus. Pernah satu kali sangat patah hati namun sekarang sudah baik-baik saja. Jinae menjadikannya pelajaran dan mulai berpikir kalau tidak ada orang yang bisa menjaga perasaannya kecuali dirinya sendiri.

"Saat ini anda bekerja sebagai apa? Bagaimana dengan prestasi anda di sekolah/tempat kerja anda?"
I am only good in English and math.” Jinae terkekeh. Predikatnya di kampus cuman mahasiswa normal. Untuk mengejar cumlaude ia masih perlu working her ass off karena tidak terlahir dengan bakat jenius seperti orang-orang di kampusnya. Ia selalu berpikir ia tidak sepintar Jinyoung, soalnya. “Kalau di tempat kerja… well, I am thinking of getting one. Part-time begitu. Untuk iseng-iseng buang waktu sekaligus cari pengalaman,” uang, sebab, tidak pernah dipermasalahkan karena mereka berdua masih menerima support orangtua, “tapi… sampai sekarang masih belum tahu bagaimana minta izin ke Oppa…” Because she will never, never, doing things without her brother’s permission.

"Apa keinginan anda yang paling dalam? Apakah memiliki cita-cita, atau kehidupan yang sekarang saja sudah cukup bagi anda? Silakan jelaskan."
If people ask me about what I want to be within five years…” ia tersenyum, “I just want the me in the future be happy.

ROLEPLAYING SAMPLE

Tahun 2014, Jinae kami berusia 17.

Orang bilang, itu adalah usia di mana kamu akan diberi banyak sekali kebahagiaan. Masa di mana momen-momen remarkable akan terangkai. Orang-orang juga bilang bahwa itu mungkin akan jadi masa paling bahagia selama kamu hidup; sesuatu yang saat kamu tua nanti akan membuat dua sudut bibirmu tertarik naik dan membentuk satu senyum tulus kala mengingatnya kembali. Jinae… dulu, sempat percaya mitos tersebut. Dulu, lama sekali... jauh sebelum tahun itu, pada akhirnya, jatuh jauh dari apa yang ia ekspektasikan.



“Kita... putus saja.”


Malam itu, di persimpangan jalan menuju tempat tinggalnya, pemuda yang tengah menggandeng tangannya itu menghentikan langkah.

Ya?

“Kita... putus saja, Jinae-ya.” Jalinan tangan mereka yang semula terkait, …dikendurkan, lalu dilepas. Jemari si gadis yang kurus sekarang dibiarkan menggantung di sisi kanan-kiri tubuh gadis itu.

Jinae mengerjapkan mata. “A—ah, Oppa..” ia berusaha terkekeh, berpikir kalau itu mungkin salah satu candaan pemuda itu yang biasanya memang tidak lucu. “Aku sedang tidak mood bercanda. Ayo, kita jalan lagi biar gak kemalam—,”

“Serius. Aku gak akan bikin hal serius begini jadi candaan.”

Sekali lagi, matanya mengerjap. Kali ini tanpa senyum. “Waeyo?

“Apakah harus sekali pakai alasan panjang, Jinae-ya?”

Pemuda itu menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal dengan tampang sedikit frustrasi dan tampak menghindar dari pertanyaan lebih lanjut. “Aku cuma ngerasa kalau kita gak lagi cocok. Sudah, karena itu saja. Apa kamu mau aku mengarang-ngarang alasan panjang biar kamu senang?”

Iya. Jinae ingin mendengar satu lusin alasan yang jadi pembenaran pemuda yang telah dikencaninya tiga bulan itu melepas hubungan mereka. Ingin tahu sekali karena ia tidak pernah merasa seperti ini. Mereka bicara tidak banyak malam itu. Hubungan mereka berakhir secepat itu... Jinae tidak ingat berapa lama waktu yang berlalu sampai mereka lantas saling memeluk formalitas untuk terakhir kali dan pulang dengan saling memunggungi satu sama lain.

Yang Jinae ingat, malam itu ia sampai ke depan tempat tinggalnya sendirian. Yang Jinae ingat, adalah rasa sakit yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan. (Hubungannya selalu berakhir ketika Jinae merasa bosan atau mulai sibuk dengan dunianya; ia selalu mengakhiri duluan, namun sekarang.. mungkin ia sedang berkenalan dengan karma.)

"Sudah pulang?"

Di sana, Nam Jinyoung, yang saat itu bertanya.

Jinae tersenyum… "Yeah," katanya, melepas sepatu berpergiannya dan kemudian menggantinya dengan sandal dalam ruangan. "Oppa sudah makan, belum? Mau kupesankan delivery? Atau mau kubikinkan ramyeon campur kimchi?"



Rasanya sakit… tapi Oppa-nya cuman perlu tahu kalau ia baik-baik saja.

This post has been edited by Nam Jinae: Oct 24 2016, 08:31 PM
PM
^
♛Lee Hyunwoo
 Posted: Oct 27 2016, 02:58 PM
Quote
send pm // Offline
84 posts
38 years old
Chairman
ID: hyunwoolee
taken for granted
Administrator

840 points
Awards: None


user posted image
PMEmailWebsite
^
0 User(s) are reading this topic (0 Guests and 0 Anonymous Users)
0 Members:

Topic Options
Closed
New Topic
New Poll


 


 

Affiliates [ View All | Link-us | Apply ]
Toshi Haku Battle Royale RPG Forum Sekolah Sihir Hogwarts Smiley Academy (SA) SAD (Shinobi Another Dimension) Indo Eyeshield 21 Bauklötze - Shingeki no Kyojin RPF Tales of Middle Earth The Black Clover Vampire Knight:re Legend of Terra Yuugen Vault 546 SoulMatch RPF 
 


skinned exclusively by ree of shine. cfs by black. modified by neng. do not reproduce.